Aku tak akan memberikan andil pada rana hidup seseorang.
Dedaunan itu bergemercik menanggapi perkataan ku.
Ia mengulas angin yang berhembus dari sekian ujar dan ratapku.
Menyimpulkannya pada helaian daun daun basah dan menguap begitu saja.
Aku tak akan memberikan andil pada rana hidup seseorang.
Dedaunan itu bergemercik menanggapi perkataan ku.
Ia mengulas angin yang berhembus dari sekian ujar dan ratapku.
Menyimpulkannya pada helaian daun daun basah dan menguap begitu saja.
Layaknya makhluk hidup yang lainnya
Rumput rumput itu bersuara, pepohonan pepohonan itu menderu
Diantara riuh deru mesin yang melahap batang tubuh penghuninya
Dan diantara lahap api yang lapar
Berkobar menyebar tandas hingga akar
Hai pembaca blog ku, kalian masih ingat tentang Kala, yang sempat ku ceritakan pada narasiku sebelumnya.
Kini ia menjelma bagai sosok asing dalam mimpiku. Tenang, tenang ia tak lagi mengolok olok ku, kali ini perawakannya sangat tenang, sangat damai.
Kau tahu tidak, beberapa kali ia menyunggingkan senyum nya yang manis ke arahku, iya, senyumnya yang benar-benar mengembalikan letihku yang patah, lengah ku yang payah.
Bahkan ia hadir dalam mimpi tidurku. Tawa renyahnya, sunggingan senyum lesung pipinya, ranum indah bibirnya, perpaduan sempurna dari Sang Maha Pencipta.
"Brengsek !!!! Para penikmat mimpi itu datang lagi, meluluh lantakkan kastil di ujung batas kota sana, yang puluhan tahun kau bangun dengan peluh keringatmu, dengan jerih payahmu, membangunnya satu persatu, lempung lempung tanah liat yang kau bentuk menjadi batu bata, kau susun satu persatu dengan semen harapan membentuk kastil benteng kepercayaan dirimu.