Friday, 11 November 2016

Dermaga Kedua


Matahari masih sama saat ia terakhir kali tenggelam. Di senja yang berkabut ketika perahu-perahu nelayan mulai berlayar. Aku kembali teringat akan janji yang tersemat pada kesekian duka dan air mata. Dermaga mulai sepi saat ku mulai beranjak pulang dengan tangan hampa. Sepedih ini kah yang mereka katakan penantian? Pelahan aku mulai menyunggingkan senyum, padahal sang hati mengatakan hal berbeda.
Entah ini tahun ke berapa setelah pertemuan antara aku dengan penggerus hati. Ku buka lagi beberapa buku diaryku yang sudah usang karena sudah lama tak ditulisi. Yang ku temukan hanya kumpulan sajak dan puisi tentangnya. Fikirku menerawang lagi. Senaif ini kah aku menghapkanya? Aku fikir sudah terlalu jauh diriku memasuki labirin-labirin kehidupannya, yang dengan lancang memasukinya tanpa permisi dan berharap mendapatkan tempat nyaman untuk menetap.