Matahari
masih sama saat ia terakhir kali tenggelam. Di senja yang berkabut ketika
perahu-perahu nelayan mulai berlayar. Aku kembali teringat akan janji yang
tersemat pada kesekian duka dan air mata. Dermaga mulai sepi saat ku mulai
beranjak pulang dengan tangan hampa. Sepedih ini kah yang mereka katakan
penantian? Pelahan aku mulai menyunggingkan senyum, padahal sang hati
mengatakan hal berbeda.
Entah ini
tahun ke berapa setelah pertemuan antara aku dengan penggerus hati. Ku buka
lagi beberapa buku diaryku yang sudah usang karena sudah lama tak ditulisi. Yang
ku temukan hanya kumpulan sajak dan puisi tentangnya. Fikirku menerawang lagi.
Senaif ini kah aku menghapkanya? Aku fikir sudah terlalu jauh diriku memasuki
labirin-labirin kehidupannya, yang dengan lancang memasukinya tanpa permisi dan
berharap mendapatkan tempat nyaman untuk menetap.