Monday, 16 August 2021

Racun Harapan

 Aku tak akan memberikan andil pada rana hidup seseorang.

Dedaunan itu bergemercik menanggapi perkataan ku.

Ia mengulas angin yang berhembus dari sekian ujar dan ratapku.

Menyimpulkannya pada helaian daun daun basah dan menguap begitu saja.

Hujan membasahi bumi.

Percaya atau tidak, ia lahir dari bibir bibir ku.

Mengulumnya menjadi tetesan air hujan yang tak sempat bertoleh muka dengan daun keladi.

Ah, aku ditipu angan sendiri.

Dibawa bayang bayang ilusi.

Lolongan dalam kepalaku bergema, menjelma menjadi intuisi, tipu daya yang membasmi kepercayaan diri sendiri.

Dibuatnya pergi jauh dari jati diri. Bodohnya, keraguanku akan hal besar menguasai lebih dari dua per tiga keniscayaan yang ku yakini.

Lalu apa sekarang? Haruskah ku ingkari lagi sang nurani dan membunuhnya hingga mati?



No comments:

Post a Comment