Wednesday, 30 October 2013

Setiap Bayang adalah Gaung



Setiap bayang adalah gaung
Pantulan serenda pemisah dua suara
Berteriak mengaduh menghimpun duka
Hanya terpantul pantul memenuhi rongga ingatan

Thursday, 8 August 2013

Angin Kembang

Angin kembang di pucuk malam
Menebar aroma melati dan
Kembang setaman
Adakah ia sedang mekar

Wednesday, 7 August 2013

Renungan Malam

Malam suram tanpa bintang
Malam kelam tanpa bulan
Jiwaku suram tanpa teman
Hanya penyesalan yang terkenang

Tuesday, 6 August 2013

30_When September Ends_


2 Oktober 2012 pukul 18:10
Musim panas datang dan pergi . Hujan turun lagi , dan bintang-bintang berjatuhan,  membasahi lukaku lagi. Menjadi diku sendiri.
Saat kenanganku bersandar (As my memory rests)
Namun aku tak pernah melupakan sesuatu yang hilang dariku (But never forgets what I lost)
Bangunkan aku saat September berakhir (Wake me up when September ends )

Lagu ini  pelan dan sedih yang tak perlu diragukan lagi. Siapa saja yang pernah kehilangan seseorang di bulan September memiliki pikiran yang kuat mengenai lagu ini. Beberapa orang sangat menyukai lagu ini, sedangkan yang lain menghindarinya karena lagu ini membawa kembali kenangan yang menyedihkan. Lagu ini dinyanyikan Billie dengan emosi yang membuat perasaannya menggema lebih lagi.

Lagu ini menceritakan mengenai ayah Armstrong yang meninggal karena kanker 1 September 1982. Billie waktu itu berumur 10 tahun. Pemakaman ayahnya terlalu menyakitkan bagi dia dan ia hancur dalam tangisan. Ia meninggalkan pemakaman lebih dulu, berlari ke rumah dan mengunci dirinya di ruangannya. Ia berteriak "Wake me up when September ends." Kata-kata itu terpatri dalam kepalanya dan akhirnya ia mencurahkan perasaannya lewat musik 20 tahun setelahnya di tahun 2003. Itulah mengapa ia memasukkan baris "Like my father's come to pass, 20 years has gone so fast". Di awal lagu ia menyebutkan 7 tahun, ia berbicara mengenai 7 tahun antara kematian ayahnya dan pembentukan Green Day. Isi lain lagunya adalah ekspresi rasa sakit Billie saat kehilangan ayahnya

Hati Lelaki Seperti Brankas

Hati lelaki seperti brankas, tempat menyimpan segala masalah. Lelaki lebih memilih bermain dengan pikirannya. Diam adalah cara dia untuk meraba jalan keluar. Masalah yang datang menerjang adalah makanan sehari hari yang kudu ditaklukkan. Diendapkan dalam sikap dewasa dan diuraikan dengan kemampuan nalarnya. Air mata lelaki mahal. Tidak mudah menetes manakala bingung m
engepung. Tidak mudah menetes manakala panik mencekik. Tapi mungkin justru akan menetes pelan saat menghamba dalam kerinduan. Menyepi dalam kepasrahan. Bertobat akan jutaan kesalahan yang pernah dilakukan.

Cerita? kapan kapan saja. karena dia hanya akan cerita bila memang ada peluang solusi masalah yang orang yang diajak berbagi. Tidak sembarang orang bisa mendengar curahan hati. Tidak semua orang pula bisa sedemikian mudah percaya dan mempercayakan masalahnya. Maka menyimpan masalah adalah lebih baik, daripada harus terbuka kanal hati hingga lari kemana mana masalah pribadi.

Berbeda dengan perempuan. Hatinya tak kuasa menahan persoalan persoalan. Bercerita, berbagi, dan juga mengekspresikan diri dalam sikap dan tingkah laku adalah hal yang biasa. Susah bagi wanita menyembunyikan perasaan. Apakah itu suka, benci atau bahkan sedih. Ingin rasanya seperti pria yang selalu pakai logika. tapi nampaknya perempuan memang berbeda. Dia lebih suka bicara pada hati dan komitmen. Bicara pada soal memiliki dan dimiliki. Tidak lagi bicara pada soal suka atau tidak suka semata.

Maka air mata bagi wanita adalah sebuah cara untuk mengungkapkan perasaan. Bahagia, haru, benci dan bahkan luka, menjadi sangat jelas terpancar lewat linangan air mata dan isakan tangisnya. Maka bila memang itu terjadi, mereka hanya butuh didengar dan diperhatikan. Butuh dibantu dan diakui keberadaannya. Serta butuh sandaran, yang akan bisa menguatkan, langkah kaki kehidupan yang masih kudu berjalan entah sampai kapan...

Ketika Terdiam di Sudut Malam

4 April 2012 pukul 18:12
Hidup adalah sebuah harapan. Harapan menjadikan manusia untuk tetap berdiri, menatap jauh kedepan. Bagi sebagian orang, harapan adalah sebuah mimpi yang sangat mustahil bahkan hanya dianggap sebagai bunga tidur belaka. Tiada daya untuk mewujudkannya.Harapan mengiringi langkah ku, membuai tidurku, memeluk lelahku. Aku dibayangi sebuah harapan yang sangat sederhana, namun sampai saat ini aku belum mampu menjadikannya kenyataan. Sedangkan waktu terus berjalan, dan seakan mentertawakan ku,mengejek ku. Aku hanya terdiam disudut malam, tak tahu harus apa.

Rintik hujan menyapa kekosongan jiwa…..




Kutulis semua apa yang kurasa. Sejenak langkah terhenti dan ku sadari ku bergerak STATIS di jalur aman di titik dimana aku berdiri sekarang. Tiada jiwa yang pernah berontak sekalipun kenyataan begitu pahit menghalau di depan mata. Harapku yang kian memudar dan menjemput bahagianya pelahan kurelakan. Jika nyata bahagia bagiku hanyalah ini, aku ingin hidup dalam lingkar peristiwa dan tiada beban mendera di jiwa. Namun kehendak-Nya berkata lain, hanya kekuatan hati yang sanggup memanggulnya.

Puisi sang pungguk untuk purnama




Gurisan luka terindah terlukis padamu wahai purnama
Sejenak berpaling kusandarkan jenuhku di naungan cahyamu
Meskipun tak abadi..
Inginku rebahkan segala hasrat yang menjerat dalam naungan cahaya temaram mu
Yang indah tak terperi..

Cerpen : Sahabat Yang Ku Rindukan



oleh Lubna Abidah pada 17 Mei 2012 pukul 0:23 ·
“Ardi tunggu jangan cepet-cepet larinya”, aku mengejarnya tersengal-sengal. “Ayo cepetan sini”, ujarnya sambil terus berlari. Ardi adalah sahabat kecilku. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Setiap pulang sekolah kami selalu berlari, karena rumah kami tak jauh dari sekolah.