Musim panas datang dan pergi . Hujan turun lagi , dan bintang-bintang berjatuhan, membasahi lukaku lagi. Menjadi diku sendiri.
Saat kenanganku bersandar (As my memory rests)
Namun aku tak pernah melupakan sesuatu yang hilang dariku (But never forgets what I lost)
Bangunkan aku saat September berakhir (Wake me up when September ends )
Lagu ini pelan dan sedih yang tak perlu diragukan lagi. Siapa saja
yang pernah kehilangan seseorang di bulan September memiliki pikiran
yang kuat mengenai lagu ini. Beberapa orang sangat menyukai lagu ini,
sedangkan yang lain menghindarinya karena lagu ini membawa kembali
kenangan yang menyedihkan. Lagu ini dinyanyikan Billie dengan emosi yang
membuat perasaannya menggema lebih lagi.
Lagu ini menceritakan mengenai ayah Armstrong yang meninggal karena
kanker 1 September 1982. Billie waktu itu berumur 10 tahun. Pemakaman
ayahnya terlalu menyakitkan bagi dia dan ia hancur dalam tangisan. Ia
meninggalkan pemakaman lebih dulu, berlari ke rumah dan mengunci dirinya
di ruangannya. Ia berteriak "Wake me up when September ends."
Kata-kata itu terpatri dalam kepalanya dan akhirnya ia mencurahkan
perasaannya lewat musik 20 tahun setelahnya di tahun 2003. Itulah
mengapa ia memasukkan baris "Like my father's come to pass, 20 years has gone so fast".
Di awal lagu ia menyebutkan 7 tahun, ia berbicara mengenai 7 tahun
antara kematian ayahnya dan pembentukan Green Day. Isi lain lagunya
adalah ekspresi rasa sakit Billie saat kehilangan ayahnya
Hati Lelaki Seperti Brankas
Hati lelaki seperti brankas, tempat menyimpan segala masalah. Lelaki
lebih memilih bermain dengan pikirannya. Diam adalah cara dia untuk
meraba jalan keluar. Masalah yang datang menerjang adalah makanan
sehari hari yang kudu ditaklukkan. Diendapkan dalam sikap dewasa dan
diuraikan dengan kemampuan nalarnya. Air mata lelaki mahal. Tidak mudah
menetes manakala bingung m
engepung. Tidak mudah menetes manakala panik mencekik. Tapi mungkin
justru akan menetes pelan saat menghamba dalam kerinduan. Menyepi dalam
kepasrahan. Bertobat akan jutaan kesalahan yang pernah dilakukan.
Cerita? kapan kapan saja. karena dia hanya akan cerita bila memang
ada peluang solusi masalah yang orang yang diajak berbagi. Tidak
sembarang orang bisa mendengar curahan hati. Tidak semua orang pula
bisa sedemikian mudah percaya dan mempercayakan masalahnya. Maka
menyimpan masalah adalah lebih baik, daripada harus terbuka kanal hati
hingga lari kemana mana masalah pribadi.
Berbeda dengan perempuan. Hatinya tak kuasa menahan persoalan
persoalan. Bercerita, berbagi, dan juga mengekspresikan diri dalam
sikap dan tingkah laku adalah hal yang biasa. Susah bagi wanita
menyembunyikan perasaan. Apakah itu suka, benci atau bahkan sedih.
Ingin rasanya seperti pria yang selalu pakai logika. tapi nampaknya
perempuan memang berbeda. Dia lebih suka bicara pada hati dan komitmen.
Bicara pada soal memiliki dan dimiliki. Tidak lagi bicara pada soal
suka atau tidak suka semata.
Maka air mata bagi wanita adalah sebuah cara untuk mengungkapkan
perasaan. Bahagia, haru, benci dan bahkan luka, menjadi sangat jelas
terpancar lewat linangan air mata dan isakan tangisnya. Maka bila
memang itu terjadi, mereka hanya butuh didengar dan diperhatikan. Butuh
dibantu dan diakui keberadaannya. Serta butuh sandaran, yang akan bisa
menguatkan, langkah kaki kehidupan yang masih kudu berjalan entah
sampai kapan...
Hidup
adalah sebuah harapan. Harapan menjadikan manusia untuk tetap berdiri,
menatap jauh kedepan. Bagi sebagian orang, harapan adalah sebuah mimpi
yang sangat mustahil bahkan hanya dianggap sebagai bunga tidur belaka.
Tiada daya untuk mewujudkannya.Harapan mengiringi langkah ku, membuai
tidurku, memeluk lelahku. Aku dibayangi sebuah harapan yang sangat
sederhana, namun sampai saat ini aku belum mampu menjadikannya
kenyataan. Sedangkan waktu terus berjalan, dan seakan mentertawakan
ku,mengejek ku. Aku hanya terdiam disudut malam, tak tahu harus apa.
Kutulis
semua apa yang kurasa. Sejenak langkah terhenti dan ku sadari ku bergerak
STATIS di jalur aman di titik dimana aku berdiri sekarang. Tiada jiwa yang
pernah berontak sekalipun kenyataan begitu pahit menghalau di depan mata.
Harapku yang kian memudar dan menjemput bahagianya pelahan kurelakan. Jika
nyata bahagia bagiku hanyalah ini, aku ingin hidup dalam lingkar peristiwa dan
tiada beban mendera di jiwa. Namun kehendak-Nya berkata lain, hanya kekuatan hati
yang sanggup memanggulnya.
“Ardi tunggu jangan cepet-cepet larinya”, aku mengejarnya
tersengal-sengal. “Ayo cepetan sini”, ujarnya sambil terus berlari. Ardi adalah
sahabat kecilku. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Setiap pulang sekolah kami
selalu berlari, karena rumah kami tak jauh dari sekolah.