Friday, 23 December 2016

Sunyi

Gelap menyergap hati yang pekat. Menebas malam lalu sunyi mendekat. Aku berteriak dan hanya gema yang menjawab. Lalu percumbuan dengan sunyi membuat hati terjerembab.

Friday, 11 November 2016

Dermaga Kedua


Matahari masih sama saat ia terakhir kali tenggelam. Di senja yang berkabut ketika perahu-perahu nelayan mulai berlayar. Aku kembali teringat akan janji yang tersemat pada kesekian duka dan air mata. Dermaga mulai sepi saat ku mulai beranjak pulang dengan tangan hampa. Sepedih ini kah yang mereka katakan penantian? Pelahan aku mulai menyunggingkan senyum, padahal sang hati mengatakan hal berbeda.
Entah ini tahun ke berapa setelah pertemuan antara aku dengan penggerus hati. Ku buka lagi beberapa buku diaryku yang sudah usang karena sudah lama tak ditulisi. Yang ku temukan hanya kumpulan sajak dan puisi tentangnya. Fikirku menerawang lagi. Senaif ini kah aku menghapkanya? Aku fikir sudah terlalu jauh diriku memasuki labirin-labirin kehidupannya, yang dengan lancang memasukinya tanpa permisi dan berharap mendapatkan tempat nyaman untuk menetap.

Friday, 21 October 2016

Rindu, berartikah ini ?

Rindang daun yang sama
Dua tatap mata mendekap rindu yang
tercermin pada kabutnya mega
Masihkah berarti sebuah rindu
di tengah kosongnya hati

Monday, 22 August 2016

Dermaga Kedua

Segalanya terjatuh dalam jernih dekapan air mata.
Senyum pilu pada perjumpaan terakhir, menjadi sebuah kesaksian takdir.
Aku tetap berpijak membawa sekeping hati ke dermaga.

Sunday, 17 July 2016

Mimpi

Aku masih berjalan di relung mimpi mimpi.
Mendapati diriku bahagia bersama sosok diri sebuah mimpi.
Tetapi mengapa bukan kamu?
Yang menunggu dan membukakan pintumu untukku?
Mengapa bukan kamu?