Saturday, 23 April 2022

Repetisi dalam Langkah

Redupmu lindap diterkam sunyinya malam

Tangismu menguap dibawa linang dan hembus sang angin

Dirimu hilang diawa jiwa yang berkelana pada sekian kemungkinan

Lingkar Mata Menyimpan Luka

Sudah terlalu lama aku terbaring pada angan yang meyakinkanku bahwa hidup adalah perjalanan yang semu dan sementara, namun entah mengapa segala bentuk kecewa tampak begitu nyata. Saat aku memejamkan mata dan mengenyahkan semua pikiran-pikiran yang membuat segalanya tidak baik-baik saja segalanya terlihat gelap tanpa rasa, aku tak bisa memikirkan bahkan merasakan respon apapun dari sebuah peristiwa yang begitu menyayat hatiku.

Kesekian Luka

Hati ini terlalu lapang untuk menempatkan kesekian luka yang kenyataan torehkan.

Tiada yang dapat hidup membersamainya, tidak pernah merasa mampu untuk melanjutkan perjalanan menuju arah manapun. Langkah-langkah rapuhnya ia tutupi dengan menipu pandangan orang lewat apa yang ia posting di sosial medianya. Yang ia bisa lakukan hanya berpura-pura bahagia, berpura-pura tertawa, sibuk akan kerja dan pencapaian yang ada. Sibuk mengagendakan diri dengan sekian produktivitas dan kegiatan untuk menyamarkan lukanya.

Thursday, 14 April 2022

Langkahku

Tak ada serenda nada di sini

Meninggalkan petik petik kelam yang tertanam di dasar lentera jiwa

Kenangnya menarik paksa

Memetik harapan yang lama tertuai di dalam buku buku cerita

Wednesday, 13 April 2022

Perjalanan

 Setelah usai perkenalan kita beberapa tahun berjalan maka tibalah kita pada sebuah perjalanan.

Perjalanan yang apik tanpa hal yang perlu dipaksakan untuk berjalan.

Perkenalan singkat kita, waktu waktu kebersamaan kita, satu persatu terlewati hari demi hari.

Tak terasa sudah banyak waktu yang di lalui, meskipun terasa amat singkat.

Tibalah pada hari ini, hari dimana segala kebersamaan kita harus aku relakan untuk disudahi, ketika kamu menemukan tujuan yang kau sebut rumah.