Redupmu lindap diterkam sunyinya malam
Tangismu menguap dibawa linang dan hembus sang angin
Dirimu hilang diawa jiwa yang berkelana pada sekian kemungkinan
Redupmu lindap diterkam sunyinya malam
Tangismu menguap dibawa linang dan hembus sang angin
Dirimu hilang diawa jiwa yang berkelana pada sekian kemungkinan
Hati ini terlalu lapang untuk menempatkan kesekian luka yang kenyataan torehkan.
Tiada yang dapat hidup membersamainya, tidak pernah merasa mampu untuk melanjutkan perjalanan menuju arah manapun. Langkah-langkah rapuhnya ia tutupi dengan menipu pandangan orang lewat apa yang ia posting di sosial medianya. Yang ia bisa lakukan hanya berpura-pura bahagia, berpura-pura tertawa, sibuk akan kerja dan pencapaian yang ada. Sibuk mengagendakan diri dengan sekian produktivitas dan kegiatan untuk menyamarkan lukanya.
Tak ada serenda nada di sini
Meninggalkan petik petik kelam yang tertanam di dasar lentera jiwa
Kenangnya menarik paksa
Memetik harapan yang lama tertuai di dalam buku buku cerita
Setelah usai perkenalan kita beberapa tahun berjalan maka tibalah kita pada sebuah perjalanan.
Perjalanan yang apik tanpa hal yang perlu dipaksakan untuk berjalan.
Perkenalan singkat kita, waktu waktu kebersamaan kita, satu persatu terlewati hari demi hari.
Tak terasa sudah banyak waktu yang di lalui, meskipun terasa amat singkat.
Tibalah pada hari ini, hari dimana segala kebersamaan kita harus aku relakan untuk disudahi, ketika kamu menemukan tujuan yang kau sebut rumah.