Hai pembaca blog ku, kalian masih ingat tentang Kala, yang sempat ku ceritakan pada narasiku sebelumnya.
Kini ia menjelma bagai sosok asing dalam mimpiku. Tenang, tenang ia tak lagi mengolok olok ku, kali ini perawakannya sangat tenang, sangat damai.
Kau tahu tidak, beberapa kali ia menyunggingkan senyum nya yang manis ke arahku, iya, senyumnya yang benar-benar mengembalikan letihku yang patah, lengah ku yang payah.
Bahkan ia hadir dalam mimpi tidurku. Tawa renyahnya, sunggingan senyum lesung pipinya, ranum indah bibirnya, perpaduan sempurna dari Sang Maha Pencipta.
Aku amat bangga memilikinya di dalam diriku, terkadang baginya aku adalah kelemahannya, ketidakberdayaan dalam hidupnya, juga sesalnya. Namun tidak lantas ia tinggalkan ku begitu saja, katanya aku tanpanya bagaikan raga yang terbelah dua. Tak pernah ada, tanpa saling bersama.
Ada lagi yang berbeda kali ini, jabatnya begitu hangat, peluknya yang kemarin kaku mendekap ku, kini tak lagi canggung saat itu.
Kita bercerita satu sama lain di hadapan cermin. Aku menatap ia sebagai bayanganku, pun ia menatapku sebagai bayang nya.
Tiba tiba aku jadi teringat saat pertama kalinya ia hadir, awalnya ia datang sebagai sosok anak kecil sepantaran ku saat itu, berlarian di pelataran masjid berkejaran bersamaku dengan riang tawanya, berputar-putar pula ia dalam imaji ku.
Semakin jelas sosoknya ketika aku dihadapkan pada kenyataan pelik, bertukar pandang pada jam jam kosong perkuliahan ku. Beradu pendapat dalam kepalaku, berselisih paham, berdebat, memarahi ku, tak jarang menyadarkan ku. Terlebih jika meledak emosinya, maka orang orang melihatnya sebagai wujud lamunan ku.
Banyak orang yang tak mengerti dia sebagaimana aku mengerti tentangnya, bahkan orang orang terdekat ku, tentu saja karena tidak semua bisa mengerti dan menyadari kehadirannya.
Pada gamangnya putusan ku, ia menguatkan lagi, bahwa apa yang ku pilih adalah tanggungjawab ku, salah satu pilihan yang mana aku condong terhadapnya adalah keputusan awal ku, keputusan murni dari batinku tanpa pengaruh orang lain. Maka aku harus yakin terhadapnya.
Aku sangat-sangat senang ketika tekat dan ambisinya mulai membludak, memenuhi ubun ubun ku, serasa ingin ku coret coret saja semua isi kepalaku dalam puluhan lembar buku, mudah sekali dengan cara itu dia menciptakan senyum pada bibirku dan sinar pada binar mataku.
Pada akhirnya, kepada Kala aku ucapkan banyak terimakasih, telah menemani sepanjang perjalanan hidupku yang rumit dan penuh teka teki ini. Aku menyayangimu sebagaimana aku menyayangi diriku sendiri.
No comments:
Post a Comment