"Brengsek !!!! Para penikmat mimpi itu datang lagi, meluluh lantakkan kastil di ujung batas kota sana, yang puluhan tahun kau bangun dengan peluh keringatmu, dengan jerih payahmu, membangunnya satu persatu, lempung lempung tanah liat yang kau bentuk menjadi batu bata, kau susun satu persatu dengan semen harapan membentuk kastil benteng kepercayaan dirimu.
Sini ku ajari kau, si lemah tak berdaya ini tidak cermat membangun pondasi kastilnya, angin badai yang biasa saja dia langsung tumbang, luluh lantak tak berbentuk, dasar payah, dasar sampah. Kamu tau ketakbergunaanmu kenapa? Karena kau lemah, lemah oleh keadaan, dimana hatimu yang kau aku aku tangguh itu, apa hanya dongeng, apa hanya bunga kata manis yang dipertontonkan pada semesta bahwa kau baik baik saya. Topengmu sama sekali tak berguna , lamban. Elokmu saja yang kau tampakkan itu, ingin terlihat hebat hah tanpa jeri payah. Kau ingin menamparku sini, ingin menyakiti diriku kini karena kata kataku. Kau lupa aku adalah dirimu, kau ingin menyakiti diri sendiri, hah.
Kau lihat belantara hutan sana, yang memiliki sungai dengan aliran air yang deras, tempat dimana mimpi mimpi burukmu berasal, ke sana saja, hanyutkan dirimu tak usah kembali, atau gantungkan saja dirimu di salah satu pepohonan tertua yang ada di sana. Biar dirimu yang lemah itu hilang tak lagi menempel pada raga ini.
Dasar parasit!! Sudah cukup tangisnya , tak mengubah apapun kau tau. Aku muak melihatmu, terlebih jika ku pandang cermin di hadapmu sekarang, ingin ku pecahkan rasanya. Tidak ,, tidak tidak bukan hanya ku pecahkan,, aku ingin meremuknya berkeping keping bahkan kini, hingga menjadi serpihan lalu menjadi abu dan ku bakar pula, biar tersisa tinggal asap yang mengepul. Kenapa ?? Kau ingin lari kah ? Ingin berlindung di ketiak ibumu lagi. Dasar payah, kapan kau akan bisa dewasa menangani masalahmu, gejolak batinmu sendiri hingga kini.
Masih saja kah kamu meratap begitu, manusia yang tak tahu diri, dimana syukurmu itu, sudah kau hilangkankah dari kamus kehidupanmu? Hai orang bodoh lebih baik kau saja yang mati, daripada kau bunuh kata paling berharga itu dari hidupmu. Menghilanglah sekarang aku sudah muak kau mengikutiku terus semenjak pertama kau ditindas oleh para para penikmat mimpi itu. Kau sendiri tidak ada andil untuk mempertahankan yang sepantasnya dirimu dapatkan, hanya menangis pasrah meratap berkeluh kesah, aku sudah muak, muak teramat sangat dengan dirimu yang payah itu. Tiga hari ini saja kau menangis terus terusan, membuat sakit telingaku mendengarnya.
Enyahlah kamu dari bumi ini, jangan lagi tampakkan muka, kenapa enggan. Kqau menghancurkan segalanya, kenapa salahkan keadaan, kau sendiri yang membuatnya tampak menyedihkan, apa masih beralasan?? Jangan sampai aku mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menyingkir dari hadapanku sekarang." amarah Kala meledak ledak dengan intonasi tinggi tepat di hadapan wajahku.
Lalu hening....
Kayu kayu hutan di pelataran kastil yang telah hancur itu kini terbakar, menyisakan jejak amarah sang Kala tadi siang.
"Baik, aku akan pergi Kala, tapi ku mohon jangan sakiti bahkan membunuhku, aku masih ingin hidup bersamamu, kau tahu kan, tanpaku nuranimu akan beku, kau tak lagi memiliki rasa kasih, kendali diri dan kehangatan yang menyelimuti, kau butuh aku. Selayaknya dirimu, akupun masih ingin melanjutkan hidup, tahan amarahmu, mengakhiri hidup bukan menyelesaikan masalah, kau lupa pada orang orang yang akan kau tinggalkan, mereka akan sedih, sangat sedih sekali. Jangan kau lupakan Ia yang menciptamu, sebagai bagian dariku. Bertahanlah, redamlah amarah, luruhlah. Kita akan menjadi kuat jika bersama, jangan mencaciku lagi, oke boleh untuk saat saat tertentu, tapi kau mesti ingat. Aku dan kau kita satu tubuh, kita akan menguat bersama, genggam tangan ini. Kau hanya harus percaya pada dirimu, pada mampumu lagi. Berdalailah ku mohon." ujarku menengkannya memeluknya dengan dekapan terlembut yang pernah aku punya.
Dia adalah Kala amarahnya adalah wujud pertahanan dirinya, keceriaannya, optimismenya, merupakan bagian dari topeng ku sebenarnya, tapi ia tak menyadari juga, begitulah Kala.
Amarahnya mereda , kemudian hujan deras membasahi hutan hutan dekat kastil yang telah porak poranda itu memadamkan api yang sempat terbakar di pelatarannya. Kini kala tersenyum, rebah dan tertidur di pangkuanku. Senyumnya mendamaikanku.
"Bertahanlah Kala, kita bisa melewati ini bersama sama" :)
No comments:
Post a Comment