Setelah usai perkenalan kita beberapa tahun berjalan maka tibalah kita pada sebuah perjalanan.
Perjalanan yang apik tanpa hal yang perlu dipaksakan untuk berjalan.
Perkenalan singkat kita, waktu waktu kebersamaan kita, satu persatu terlewati hari demi hari.
Tak terasa sudah banyak waktu yang di lalui, meskipun terasa amat singkat.
Tibalah pada hari ini, hari dimana segala kebersamaan kita harus aku relakan untuk disudahi, ketika kamu menemukan tujuan yang kau sebut rumah.
Aku yang diam-diam meminta mu menjadi milikku pada-Nya ternyata bukanlah tujuan yang dikehendaki oleh-Nya.
Sekelebat kenangan manis yang terkadang terlintas dalam benakku tak ayal membuat air mata ini enggan dibendung, namun kesedihan dan keterpurukan hati harus lekas di sudahi.
Di antara puing-puing hati yang remuk ini aku masih bisa mengambil hikmah terbaik atas hidup. Setidaknya meski berkali-kali hati manusia ini rapuh oleh harap akan manusia lainnya, ia masih bisa bertahan dan menjalani cerita indah dengan kehadiran orang baru lagi dan lagi. Setidaknya, meskipun akhirnya tidak bersama, ada hal-hal dan kebiasaan baik yang bisa aku terapkan dari pribadinya dalam rangka mewujudkan versi terbaik dari diriku. Agar kelak yang akan membersamaiku nanti juga adalah seseorang yang dapat mengambil hikmah untuk memperbaiki diri dari setiap peristiwa dan juga kisah yang dijalani setiap insan di dunia. Tak ada yang bisa menjadi penolong dari hati dan jiwa rapuh manusia selain diri sendiri dan bantuan Tuhannya, karena sejatinya kita lahir hingga kembali menghadap-Nya dalam keadaan sendiri.
No comments:
Post a Comment