Hati ini terlalu lapang untuk menempatkan kesekian luka yang kenyataan torehkan.
Tiada yang dapat hidup membersamainya, tidak pernah merasa mampu untuk melanjutkan perjalanan menuju arah manapun. Langkah-langkah rapuhnya ia tutupi dengan menipu pandangan orang lewat apa yang ia posting di sosial medianya. Yang ia bisa lakukan hanya berpura-pura bahagia, berpura-pura tertawa, sibuk akan kerja dan pencapaian yang ada. Sibuk mengagendakan diri dengan sekian produktivitas dan kegiatan untuk menyamarkan lukanya.
Anehnya seluruh hidupnya terus-menerus dalam siklus yang sama, seolah kelebatan luka itu tak pernah berhenti menyayat-nyayat jiwanya.
Tangisnya ia sembunyikan saat sendiri dalam sebuah ruang, ia samarkan dengan kelap kelip indah lampu kamar, suara-suara lagu keras yang ia putar.
Raganya sudah lama ia siksa dengan melupakan jam tidur, melupakan jam makan, melupakan makanan sehat, kopi selalu menjadi teman setianya, tinta dalam pena dan buku yang kerap ia ajak bicara berdua, dan diri sendiri yang kerap kali mendialogkan apa yang ada dalam pikirnya.
Ia rapuh, amat rapuh dengan keadaan yang ada, dalam dirinya ia sudah sekarat, menjalani hari demi hari dengan agenda dan kesibukan hanya untuk mengalihkan perhatiannya akan rasa sepi, rasa sendiri, rasa putus asa, rasa berdosa karena menyerah pada keadaan.
Dalam diamnya, ia bungkam kata-kata menyakitkan orang-orang, kata-kata yang menyakiti hati dan perasaannya, kata-kata yang melambungkan serta menjatuhkannya dengan seketika.
Tanpa kamu tahu, ia sudah lelah dengan semuanya, 2 voice note di hp nya ia rekam saat tengah malam tiba, seakan sisi dirinya yang lain mencoba merangkul sisi lemahnya, menguatkan pundaknya.
Saat lelahnya tak terbendung, saat sakit di hati dan jiwanya teramat pedih untuk dirasakan, tak jarang ia menyalahkan Penciptanya. Kemudian saat sadar kembali, ia berkali kali merasa berdosa, berkali-kali menyalahkan diri sendiri, lagi dan lagi.
Entah sudah berapa kali kata lelah tersemat dalam rapalnya, entah sudah berapa kali kata menyudahi diri sendiri terucap dari bibirnya. Entah sudah berapa kali ia berpikir bahwa kebahagiaan hanyalah kesemuan yang hadirnya hanya sementara.
Entah dimana jiwanya berada.
Raganya terpasung dalam rutinitas.
Namun jiwanya berontak sejadi-jadinya pada kenyataan dan keadaan tanpa keadilan.
Lukanya ia biarkan menganga, membusuk hingga amputasi pun tidak bisa membantu meringankan rasa sakitnya.
Ia sudah cacat jiwa sebab telah lama ia bersekutu dengan traumanya.
No comments:
Post a Comment