Sudah terlalu lama aku terbaring pada angan yang meyakinkanku bahwa hidup adalah perjalanan yang semu dan sementara, namun entah mengapa segala bentuk kecewa tampak begitu nyata. Saat aku memejamkan mata dan mengenyahkan semua pikiran-pikiran yang membuat segalanya tidak baik-baik saja segalanya terlihat gelap tanpa rasa, aku tak bisa memikirkan bahkan merasakan respon apapun dari sebuah peristiwa yang begitu menyayat hatiku.
Mata ini tak cukup mengucurkan tangis, tak cukup kuat untuk menampung segara rekaman peristiwa yang dipaksa untuk terima. Potongan memori itu begitu nyata, siklus hidup dan cinta yang mengalami repetisi, kesalahan sama yang berkali-kali dimaafkan, kehilafan yang berkali-kali diberikan pemakluman, pengharapan yang berkali-kali dipatahkan. Sekuat itukan hatimu, menerima segala rasa keadaan dengan hati seluas samudera. Sekuat itukah ketabahan hatimu, saat dunia menuntut keadilan pada rasa percaya yang disia-siakan orang asing yang kita berikan rasa percaya, pada sesorang yang telah kita terima sebagai bagian dari keluarga.
Aku merasa segala bentuk kepercayaan dalam batinku runtuh satu persatu, rekaman memori dari potongan-potongan kenyataan itu terlalu tak masuk akal untuk diterima. Aku terjebak dalam dunia mimpi buruk, dimana peran utama yang kujalani adalah menerima segala perasaan luka dan aniaya batin. Di antara keluarga yang lainnya aku merasa jiwaku yang paling rapuh, paling tidak sanggup menerima segala beban yang ada, padahal aku tahu, kita sama sama tahu, luka ini sama berdarahnya dengan lukamu. Aku bahkan membenci perasaan ini, membenci diriku yang begitu lemah, begitu labil, begitu pesimis dalam memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, aku membenci diriku.
***
Lyrin datang lagi, Robert. Kini ia tak mengetuk-ngetuk pintu dengan kasar seperti biasanya ketika ia memaksa masuk mengacak-acak tumpukan pakaian rasa dalam rumah yang ku sebut raga. Ia pasti mencari sesuatu untuk dilampiaskan. Lihatlah, kini ia memecahkan kaca jendela dekat pintu masuk. Karena pikirnya, ketukan kasar di pintu-pintu rumahku tak akan ku gubris dengan sambutan dan deritan pintu yang terbuka.
Tangannya teruka oleh karena kaca jendela yang ia paksa untuk pecahkan, tetesan darahnya berceceran, melukai tumpukan pakaian yang sudah aku susun dengan rapi. Tak seperti biasanya yang mengacak-acak seisi ruangan, ia hanya mengelap bagian tubuhnya yang terluka itu dengan beberapa helai tumpukan pakaian itu. Kemudian ia berbaring pada sebuah kamar, mengunci diri dengan beberapa isak tangis. Aku tak berani untuk sekedar bertanya ataupun menerka apa yang sedang ia rasakan kini. Robert pun bungkam, ia yang biasanya mencoba menguatkan Lyrin dan menenangkannya memilih mundur dan keluar dari rumah yang kita tinggali bersama, sesaat setelah Lyrin mengunci kamarnya. Mungkin Robert juga sudah lelah, sudah letih untuk selalu membersamai kami dalam menguatkan keadaan dan kekokohan rumah yang kita tinggali. Mungkin adakalanya ia pun jenuh, ia pun juga sudah letih dengan persoalan dirinya di luar sana, menguatkan orang lain barangkali tak semudah kelihatannya.
***
"Cobalah", ucapnya kala itu. Setahuku benda itu hanyalah pisau lipat kecil yang selalu ia selipkan di kantongnya, kemanapun ia pergi. Seakan sepeti teman bicara, tempatnya membagi luka, tempatnya membentengi raga dari kejamnya perlakuan manusia. "Di sebelah mana?"tanyaku. "Dimanapun yang bisa meringankan perasaanmu."jawabnya. "Luka itu harus dibagi, kalau terlalu sakit dan kau merasa tidak mampu untuk menanggungnya sendiri."ujarnya lagi. "Cobalah" ajaknya lagi. "Aku takut,"jawabku. "Tidak apa, wajar ini pertama kalinya kan?". "Iya,"jawabku. Ini baru gurisan pertama, gurisan tipis yang hampir tak kentara, sedikit saja rasanya sudah menyakitkan. Aku meletakkannya kembali di atas meja, lalu mengurungkan segala ajakannya. "Mengapa berhenti?"tanya nya. "Tidak perlu", jawabku. "Aku tidak perlu ini semua, kamu hanya pikiran semu. Enyahlah dari pandanganku, enyahlah dari pikiranku," ada keinginan kuatku untuk mengenahkannya. "Pergi, lekas. Bawa kembali pisaumu, aku tak membutuhkannya."
No comments:
Post a Comment