Hai kawan, mari ku ceritakan sejenak bagaimana aku bisa sangat menggilai buku-buku yang terpajang di perpustakaan, di rak rak toko buku etalase yang berjejer dan beriringan.
Masa kecilku mungkin akan terlihat unik dan berbeda di antara teman sebayaku, bukan berarti aku tak pernah menghabiskan waktu untuk bermain dan bersenang-senang dengan teman-temanku. Namun mendengarkan ibuku membacakan cerita dongeng dari majalah anak-anak setelah aku lelah dari seharian bermain adalah memori dan perasaan hangat nan terindah yang pernah hati ku rasakan.
Setiap berbelanja ke pasar, ibuku tak pernah lupa untuk membelikan buku majalah anak-anak di pasar loak yang harganya cukup terjangkau, dari sanalah aku mulai memiliki ketertarikan terhadap buku, cerita dan sastra. Kecintaanku pada dunia itu terbawa hingga aku dewasa. Meskipun selama ini aku tak pernah mengikuti kompetisi apapun di bidang sastra. Karena bagiku sastra adalah makhluk unik, suci dan murni, memiliki arti personal bagi penciptanya maka bagiku hal itu tak layak untuk diperlombakan. Setiap mahakarya adalah juara dalam hati penciptanya. Selayaknya, puisi-puisi itu, tulisan-tulisan indah itu, seni yang diciptakan oleh pembuatnya, penemuan-penemuan ilmiah yang diprakarsai oleh sang penemu. Segalanya adalah seni dalam merangkai hidup, mata bagi batin. Maka seperti pribadi setiap manusia, semua itu tak layak untuk diperbandingkan.
Akhir bulan Februari memasuki bulan ke-3 konsultasi rutinku dengan wanita baik hati itu. Selayaknya seorang profesional yang ahli dalam bidangnya, ia menanyakan kondisi perasaanku. Masih sama, keadaan bak bencana alam yang menyisakan luka tanpa darah yang mengucur tumpah. Aku tersenyum kembali padanya. Ku ungkapkan segala hal yang membuatku berpikir tidak semestinya. Ku gambarkan begitu susah payahnya aku untuk mengontrol emosi yang tak karuan ini.
Namun dengan sabar, wanita baik hati itu mengarahkanku agar setidaknya aku bisa melakukan kegiatan dan pekerjaan ku seperti sediakala, dengan beberapa kegiatan dan alternatif regulasi emosional yang sekiranya bisa rutin aku lakukan. Tanpa perlu susah payah mengeluarkan banyak biaya khusus, pengobatan khusus, maupun energi lebih. Karena ia tahu betul keadaan yang membuat ku seperti saat ini.
Ia pun menawarkan ku mencoba salah satu teknik psikoterapi yang memang sudah lama dikuasainya. Aku mengikutinya dengan seksama meskipun hanya dalam layar kaca. Pada sesi-sesi tersebut aku diminta tidak hanya mengingat memori kesedihan yang melekat selama ini, namun juga memori kebahagiaan yang pernah aku rasakan selama hidup. Tujuannya agar aku dapat merasakan bahwa seberat apapun keadaan aku pernah merasakan bahagia, hal-hal yang membuatku tetap kuat hingga saat ini. Salah satu memori kebahagiaan itu muncul dalam bentuk cerita dongeng yang dibacakan ibu sebagai pengantar tidurku.
Maka tak pelak, segala perasaan sedih kecewa amarah yang begitu dahsyat maupun perasaan bahagia gembira yang menggebu-gebu selalu ku tuangkan dalam tulisan-tulisan ku, karya-karya ku. Hanya dengan begitu, aku selalu memiliki alasan untuk terus melangkah menuju petualangan kehidupan yang baru, enggan memberi kata tamat dalam buku, hingga biar kuasa-Nya saja yang mengakhirinya dengan kisah bahagia ketika keabadian menjemput ku.
No comments:
Post a Comment