Izinkan aku bercerita padamu, tentang pesan yang tak pernah aku sampaikan ini. Tentang hari-hari yang kujalani, tentang cerita setiap hari yang tak lagi pantas ku utarakan padamu lagi, karena semua telah nyata bagiku, aku bukanlah inginmu. Namun agar batinku merasa lega, aku menuliskannya di sini, di blog sederhana ku ini yang jarang orang-orang datangi.
Sengaja ku menuliskannya di sini agar segala hal yang aku lewati, segala hal yang aku rasakan, segala hal yang telah mampu aku hadapi tercatat di sini, sebagai kenangan dan pembelajaran abadi sepanjang hayat ku. Agar dapat menjadi pelajaran bagi diriku di masa depan, dan juga orang-orang yang secara tak sengaja menjelajahi blog yang ku tuliskan.
Maaf jika akhirnya pada blog ini lebih seperti curahan hati pribadi, seperti sebuah diary yang dengan sengaja siapapun dapat membukanya. Semata-mata ku lakukan agar batinku lega, setiap orang pasti punya caranya sendiri untuk meluapkan perasaan dan emosi yang menumpuk dalam batin, maka janganlah saling menyalahkan dan buru-buru menilai seseorang.
Kembali ke awal, ada hal-hal yang sangat ingin ku sampaikan padanya tentang kejadian beberapa hari ini, hari dimana aku menahan diri sekuatku untuk tidak mengirimkan pesan singkat padanya setiap hari, tidak lagi mengganggunya setiap hari, berprasangka buruk terhadapnya, apapun, aku memang tidak berhak, memangnya aku siapanya? Aku bukan siapa-siapa. Tapi
mengapa berkali-kali Allah dengan sengaja memberikan aku perasaan bahagia jika ada bersamanya? Aku benar-benar bodoh, dungu dan penuh dengan penyesalan.
Aku telah mengecewakan dan dikecewakan, segala hubungan timbal balik ini menyakitkan, apa setiap orang tercipta hanya untuk saling menyakiti sesamanya? Beginikah konsep hubungan antar manusia yang ku alami, segalanya berputar putar di area itu saja. Jujur aku amat sangat lelah.
Yang ingin ku ceritakan padamu, aku seperti berbicara sendiri, dan menganggap kau sudah merespon pesanku dengan baik.
aku : hai bagaimana kabarmu? Aku sudah sampai di kosanku. Aku ingin bercerita tentang beberapa hari kemarin.
kamu : kabarku baik Alhamdulillah syukurlah kalau kamu sudah sampai. Tentang apakah?
aku : hari Sabtu kemarin aku bertemu teman baru, sama sepertimu aku mengenalnya lewat sosial media, dia menyenangkan aku jadi tahu hal yang tidak ku ketahui sebelumnya tentang semua hobi ku yang sudah kamu tahu. Dia menjadikannya profesi semenjak ia merantau. Ada beberapa konsep pemikiran tentangnya.
Kemudian perbincangan kita berakhir sampai jatuh latut malam, seperti biasa ketika aku ingin meluangkan waktu untuk sejenak saja berbagi seluruh ceritaku padamu. Namun hari itu tak pernah lagi terjadi, aku mengikuti pinta mu dengan sepenuh hati. Memberi jarak dan ruang agar semua bisa berakhir dengan baik, tanpa ada sesiapa bisa saling melukai. Perpisahan dengan cara yang baik, katamu.
No comments:
Post a Comment