Friday, 11 November 2016

Dermaga Kedua


Matahari masih sama saat ia terakhir kali tenggelam. Di senja yang berkabut ketika perahu-perahu nelayan mulai berlayar. Aku kembali teringat akan janji yang tersemat pada kesekian duka dan air mata. Dermaga mulai sepi saat ku mulai beranjak pulang dengan tangan hampa. Sepedih ini kah yang mereka katakan penantian? Pelahan aku mulai menyunggingkan senyum, padahal sang hati mengatakan hal berbeda.
Entah ini tahun ke berapa setelah pertemuan antara aku dengan penggerus hati. Ku buka lagi beberapa buku diaryku yang sudah usang karena sudah lama tak ditulisi. Yang ku temukan hanya kumpulan sajak dan puisi tentangnya. Fikirku menerawang lagi. Senaif ini kah aku menghapkanya? Aku fikir sudah terlalu jauh diriku memasuki labirin-labirin kehidupannya, yang dengan lancang memasukinya tanpa permisi dan berharap mendapatkan tempat nyaman untuk menetap.
Segalanya kembali ke masa itu, beberapa tahun lalu. Saat diriku yang masih lugu mulai beranjak remaja. Masa kecilku tak begitu membahagiakan, beberapa anak-anak laki-laki dari mereka bahkan mencecarku dengan kata-kata yang kurang pantas. Tapi segalanya mulai berbeda saat hari pertama aku duduk di bangku SMA. Meski tak sepenuhnya berubah sebenarnya. Aku ingat pagi itu, saat perjumpaan pertama dan perkenalan melalui sebuah jabat tangan.
“Lub, maaf kita jadi kebagian duduk di belakang nih karena aku kesiangan datengnya”, ujar teman sebangku ku. “Iya gak apa-apa Rein, yang penting kita dapet tempat duduk,” kataku sembari tersenyum ke arahnya. Rein adalah teman baru ku , aku mengenalnya saat MOS SMA Aku dan Rein duduk bersebelahan dan anak-anak yang lain mulai memasuki kelas barunya. Ku lihat dua anak lain mulai memasuki ruang kelas dan duduk bersebrangan dengan tempat duduk kami. “Hai Zain”, sapa Rein pada salah satu anak tadi. “Hai, Rein kamu di kelas ini juga ya?”, tanya nya. “Iya, oh kenalin ini temen baru aku namanya Lubna. Ayo Lub kenalin ini namanya Zain dia temen aku waktu SD.” “Hai, aku Zain,”ujarnya sambil mengulurkan tangan dan menyunggingkan senyum. Senyum nya menunjukkan ketulusan dan keramahan.
Pertemuan yang siangkat ku rasa, tapi dari situlah segalanya bermula. Perkenalanku dengan Zain  menciptakan suatu ikatan persahabatan. Jiwa mudaku bereuforia setelah sekian lamanya aku menutup diriku akan kehidupan dan kebahagiaan. Setelah sekian lamanya aku bergelut dengan kesedihan dan cemoohan. Kehadirannya menjadi sebuah cerita berbeda, ia tak seperti anak-anak lain seusianya. Kebijaksanaan yang terpancar dari wajahnya dan prilakunya tak membuatnya minder berteman denganku yang cenderung pemalu dan penyendiri.
            Hari-hari berlalu, setiap hari kita melaluinya bersama. Canda dan tawa kami yang selalu terpancar bersama berlalunya hari tak jarang menunculkan tanggapan dari teman-teman sekelas yang lain. Seperti pagi itu, saat aku dan dia belajar bersama di kelas.
            “Hai kalian ini mainnya berdua terus ya,jodoh ini kayaknya,”ujar Ari teman sekelasku. Setelah itu mereka sembari tertawa. Aku hanya tersipu malu. “Ah sudahlah gak usah di tanggepin, mereka tu cuma iri ama persahabatan kita . Hehehe,” tanggapan Zain padaku. Tak lama bel masuk sekolah pun berbunyi. Bu Ani, guru kami pun memasuki kelas.
            “Baiklah anak-anak, hari ini kalian akan . Ibu akan mengumumkan juara kelas semester 1. Baiklah langsung saja ya ibu umumkan,”ucapan Bu Ani memberikan suasana ketegangan di kelas kami. “Untuk juara 3 didapatkan oleh Lisa, ayo silahkan maju” riuh tepuk tangan memenuhi kelas. “Juara 2 didapatkan oleh Nosi, selamat ya nak,”kelas mulai gaduh dan ketegangan mulai memuncak. “Hm, kira-kira siapa ya yang dapet juara 1 nya?,”ujar Rein.Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum simpul. “Juara 1 didapatkan oleh Lubna, selamat ayo nak maju ke depan.” Ibu Ani kemudian membagi-bagikan hadiah juara kelas. “Temenku satu ini pinter banget deh, gak heran kan aku juga ikut ketularan pinternya,”kata Zain. “Yeh, ge’er pede amat sih kamu,” tanggapku sembari becanda.Pagi itu aku telah meneguk secangkir kebahagiaan , semoga kesegarannya dapat bertahan hingga esok.
            Tak terasa kenaikan kelas 2 dan penerimaan siswa baru dimulai. Aku dan Zain tidak lagi sekelas. Entah mengapa hari itu aku merasa sangat sedih, padahal kita hanya berbeda kelas. Bagiku mungkin persahabatan kami tak akan lagi seerat dulu, walaupun kami masih sering main bersama.
            Mataku tertuju pada foto seorang wanita di wallpaper HP nya. “Itu siapa Zain?,”tanyaku penasaran. “Oh, itu adik tingkat kita siswa baru, cantik kan?,”tanya nya. “Iya, dia cantik. Kalian kenal dimana?”tanyaku lagi. “Kita satu organisasi dari situ aku mengenalnya.”jawabnya lagi.
            Semenjak hari itu Zain tidak lagi sering bermain denganku. Belakangan ku ketahui bahwa ia telah menemukan kepingan bahagianya. Hari tak lagi sama bagiku semenjak itu. Hari-hari dingin senyap dan sepi. Kadang ia matahari, kadang ia mendung kadang ia hujan. Tapi apun itu ia tetap dingin. Dingin dengan bulan purnama saat malamnya, dingin dengan hujan angin dan awan mendung di langitnya. Bahkan matahari terasa dingin, cahaya jingganya menyilaukan tapi tak berarti apa-apa bagi tubuhku.

Aku tak pernah tahu bagaimana cara menikmati hidup, yang aku tahu hanyalah bagaimana cara untuk menjalaninya. Aku menyusuri jalan pulang sendirian, padahal seperti biasanya aku dan Zain pulang bersama. Namun kini Zain bahkan tak pernah lagi menemuiku untuk sekedar bersenda gurau. Ia hanya sering menyapa ku ketika bertemu, aku bahkan tidak mengenal wanita itu. Wanita yang dapat memberikan kebahagiaan bagi Zain melebihiku. Yang aku tahu, aku hanya takut suatu saat akan kehilangannya, kehilangan sahabat yang selama ini menghabiskan waktu bersama.

Jalan pulang dan hening yang ku susuri seperti biasa. Aku melihat wanita itu bersama Zain, sepertinya mereka terlibat percakapan serius. “Kamu sama temen-temenmu itu aja terus. Kapan sih kamu ada waktu buat aku? Ini lagi Windy , Rein itu siapa?,”wanita itu benar-benar tersulut emosinya. “Itu cuma temen aku Sya, lagian aku juga punya waktu buat temen-temen aku yang lain, gak mungkin kan 24 jam bisa ngabarin kamu terus,”jelas Zain pada wanita itu. “Tapi seenggaknya ngabarin donk, lagian juga kamu lebih deket sama temen-temen prempuanmu dibanding aku. Kamu itu nganggep aku gak sih?,”wanita itu masih saja terbakar emosinya. “Sya tenang dulu,aku bisa jelasin.”Zain mencoba menenangkan nya. “Ah, sudahlah aku capek ngomong sama kamu,”wanita itu kemudian pergi meninggalkan Zain. Inikah yang ia sebut bahagia, bantinku.

***

“Aku udah gak sama dia lagi,”curhat Zain kepadaku. “Karena ia tak memberimu bahagia? Bukankah kamu masih menyayanginya?,”tanyaku lagi. “Bukan tak memberiku bahagia, tetapi ia yang tak mau mengerti.” Tatapan mata Zain semakin memancarkan kepedihan. Ingin ku hapus kepedihannya dengan keping hati yang ku punya, namun untuk menyekanya saja aku tak mampu. Apakah ia masih menyayangi wanita itu? Ia tak menjawab hanya tampak wajah yang memancarkan isyarat kepedihan. “Kamu mau lanjut kuliah di mana?,”tanyaku lagi . “Entahlah, mungkin aku gak akan di sini lagi.” “Maksudmu Zain, kamu mau kuliah di luar kota jauh dari sini?” “Iya, aku ingin melanjutkan studi ku ke Jawa. Aku akan tinggal di tempat saudaraku.”terangnya. “Dan mewujudkan impian masa kecilmu,”sambungku. Ia tersenym simpul, sebuah senyum yang sudah lama tak kulihat dari wajahnya.  Tak peduli bagaimana caranya aku akan berusaha menemuimu lagi Zain, janjiku pada diriku sendiri. Aku akan berjuang keras untuk mewujudkan cita-citaku, dan menemui kelak nanti setelah kita sama-sama sukses.

***

Sejak saat itu aku tak penah lagi mendengar kabarnya secara langsung. Aku hanya bertanya kabar dari orang-orang terdekatnya di sana. Meski entah ia tahu atau tidak. Menyapanya dari jauh dan menitipkan pucuk rindu pada embun di sepertiga malamku. Terakhir yang aku ketahui, ia masih saja sendiri. Mungkin ia masih berharap dapat bersandar pada hati yang telah meninggalkannya. Atau mungkin sepertiku yang telah memutuskan untuk berhenti mencari, bukan karena lelah untuk terus tersakiti oleh ia yang belum tepat, namun lebih karena hati yang ikhlas untuk melepaskan terus berjalan dan percaya akan janji-Nya.

Tidak ada pertemuan yang abadi Zain, biarkanku tenang melepasmu pergi dengan lapang hati. Apalah artinya penderitaan jika hati telah bersandar hanya kepada-Nya yang akan menebus setiap sedih dengan segala kasih.

Pagi ini, segalanya terjatuh dalam jernih dekapan air mata.Senyum pilu pada perjumpaan terakhir, menjadi sebuah kesaksian takdir.Aku tetap berpijak membawa sekeping hati ke dermaga. Melayarkanya menuju dermaga kedua. Dan ku teguk air samudra sambil mendengarkan elegi pagi buta bersenandung. Biar asaku dapat tentram dan tenggelam di dasarnya.

No comments:

Post a Comment