Matahari
masih sama saat ia terakhir kali tenggelam. Di senja yang berkabut ketika
perahu-perahu nelayan mulai berlayar. Aku kembali teringat akan janji yang
tersemat pada kesekian duka dan air mata. Dermaga mulai sepi saat ku mulai
beranjak pulang dengan tangan hampa. Sepedih ini kah yang mereka katakan
penantian? Pelahan aku mulai menyunggingkan senyum, padahal sang hati
mengatakan hal berbeda.
Entah ini
tahun ke berapa setelah pertemuan antara aku dengan penggerus hati. Ku buka
lagi beberapa buku diaryku yang sudah usang karena sudah lama tak ditulisi. Yang
ku temukan hanya kumpulan sajak dan puisi tentangnya. Fikirku menerawang lagi.
Senaif ini kah aku menghapkanya? Aku fikir sudah terlalu jauh diriku memasuki
labirin-labirin kehidupannya, yang dengan lancang memasukinya tanpa permisi dan
berharap mendapatkan tempat nyaman untuk menetap.
Segalanya
kembali ke masa itu, beberapa tahun lalu. Saat diriku yang masih lugu mulai
beranjak remaja. Masa kecilku tak begitu membahagiakan, beberapa anak-anak
laki-laki dari mereka bahkan mencecarku dengan kata-kata yang kurang pantas. Tapi
segalanya mulai berbeda saat hari pertama aku duduk di bangku SMA. Meski tak
sepenuhnya berubah sebenarnya. Aku ingat pagi itu, saat perjumpaan pertama dan
perkenalan melalui sebuah jabat tangan.
“Lub, maaf
kita jadi kebagian duduk di belakang nih karena aku kesiangan datengnya”, ujar
teman sebangku ku. “Iya gak apa-apa Rein, yang penting kita dapet tempat
duduk,” kataku sembari tersenyum ke arahnya. Rein adalah teman baru ku , aku
mengenalnya saat MOS SMA Aku dan Rein duduk bersebelahan dan anak-anak yang
lain mulai memasuki kelas barunya. Ku lihat dua anak lain mulai memasuki ruang
kelas dan duduk bersebrangan dengan tempat duduk kami. “Hai Zain”, sapa Rein
pada salah satu anak tadi. “Hai, Rein kamu di kelas ini juga ya?”, tanya nya.
“Iya, oh kenalin ini temen baru aku namanya Lubna. Ayo Lub kenalin ini namanya
Zain dia temen aku waktu SD.” “Hai, aku Zain,”ujarnya sambil mengulurkan tangan
dan menyunggingkan senyum. Senyum nya menunjukkan ketulusan dan keramahan.
Pertemuan
yang siangkat ku rasa, tapi dari situlah segalanya bermula. Perkenalanku dengan
Zain menciptakan suatu ikatan
persahabatan. Jiwa mudaku bereuforia setelah sekian lamanya aku menutup diriku
akan kehidupan dan kebahagiaan. Setelah sekian lamanya aku bergelut dengan
kesedihan dan cemoohan. Kehadirannya menjadi sebuah cerita berbeda, ia tak
seperti anak-anak lain seusianya. Kebijaksanaan yang terpancar dari wajahnya
dan prilakunya tak membuatnya minder berteman denganku yang cenderung pemalu
dan penyendiri.
Hari-hari
berlalu, setiap hari kita melaluinya bersama. Canda dan tawa kami yang selalu
terpancar bersama berlalunya hari tak jarang menunculkan tanggapan dari
teman-teman sekelas yang lain. Seperti pagi itu, saat aku dan dia belajar
bersama di kelas.
“Hai
kalian ini mainnya berdua terus ya,jodoh ini kayaknya,”ujar Ari teman sekelasku.
Setelah itu mereka sembari tertawa. Aku hanya tersipu malu. “Ah sudahlah gak
usah di tanggepin, mereka tu cuma iri ama persahabatan kita . Hehehe,”
tanggapan Zain padaku. Tak lama bel masuk sekolah pun berbunyi. Bu Ani, guru
kami pun memasuki kelas.
“Baiklah
anak-anak, hari ini kalian akan . Ibu akan mengumumkan juara kelas semester 1.
Baiklah langsung saja ya ibu umumkan,”ucapan Bu Ani memberikan suasana
ketegangan di kelas kami. “Untuk juara 3 didapatkan oleh Lisa, ayo silahkan
maju” riuh tepuk tangan memenuhi kelas. “Juara 2 didapatkan oleh Nosi, selamat
ya nak,”kelas mulai gaduh dan ketegangan mulai memuncak. “Hm, kira-kira siapa
ya yang dapet juara 1 nya?,”ujar Rein.Aku hanya menggelengkan kepala dan
tersenyum simpul. “Juara 1 didapatkan oleh Lubna, selamat ayo nak maju ke
depan.” Ibu Ani kemudian membagi-bagikan hadiah juara kelas. “Temenku satu ini
pinter banget deh, gak heran kan aku juga ikut ketularan pinternya,”kata Zain.
“Yeh, ge’er pede amat sih kamu,” tanggapku sembari becanda.Pagi itu aku telah
meneguk secangkir kebahagiaan , semoga kesegarannya dapat bertahan hingga esok.
Tak
terasa kenaikan kelas 2 dan penerimaan siswa baru dimulai. Aku dan Zain tidak
lagi sekelas. Entah mengapa hari itu aku merasa sangat sedih, padahal kita
hanya berbeda kelas. Bagiku mungkin persahabatan kami tak akan lagi seerat
dulu, walaupun kami masih sering main bersama.
Mataku
tertuju pada foto seorang wanita di wallpaper HP nya. “Itu siapa Zain?,”tanyaku
penasaran. “Oh, itu adik tingkat kita siswa baru, cantik kan?,”tanya nya. “Iya,
dia cantik. Kalian kenal dimana?”tanyaku lagi. “Kita satu organisasi dari situ
aku mengenalnya.”jawabnya lagi.
Semenjak
hari itu Zain tidak lagi sering bermain denganku. Belakangan ku ketahui bahwa
ia telah menemukan kepingan bahagianya. Hari tak lagi sama bagiku semenjak itu.
Hari-hari dingin senyap dan sepi. Kadang ia matahari, kadang ia mendung kadang
ia hujan. Tapi apun itu ia tetap dingin. Dingin dengan bulan purnama saat
malamnya, dingin dengan hujan angin dan awan mendung di langitnya. Bahkan
matahari terasa dingin, cahaya jingganya menyilaukan tapi tak berarti apa-apa
bagi tubuhku.
No comments:
Post a Comment