Friday, 23 December 2016

Sunyi

Gelap menyergap hati yang pekat. Menebas malam lalu sunyi mendekat. Aku berteriak dan hanya gema yang menjawab. Lalu percumbuan dengan sunyi membuat hati terjerembab.
Tersungkur pula hati meminta belas kasih. Lalu darah mengucur dari sela-sela biliknya. Tapi tak sekelabu itu sembab matanya. Yang ku tahu senyumnya menyelimuti luka dan tangisnya. Namun sunyi ternyata lebih kuat dari itu semua. Diambilnya cahaya dari tetesan darahnya. Aku berteriak lagi, kali ini lebih keras. Namun gema pun tak menjawab kali ini. "Hai aku sunyi", katanya. Mulutku terkatup, tak dapat berkata apapun lagi, lalu Aku,Luka dan Sunyi melebur menjadi debu.

No comments:

Post a Comment