Sunday, 1 May 2022

Kecemasan Akan Kehilangan

 Waktu adalah misteri yang tak pernah kita ketahui, langkah-langkah serta perencanaan yang telah diatur rapi bisa saja tak sesuai fakta dan realita yang akan dijalani kedepannya. Aku menuliskan segala apa yang ku pikirkan dan ku rasakan dalam setiap harinya agar merasa jauh lebih lega, tanpa ada berisik yang tidak perlu memenuhi rongga kepala. Semua karena nasihatnya, cara-cara yang tepat untukku melakukan regulasi emosi yang ku rasakan, cara ku untuk mengurasi perasaan dan pikiran-pikiran yang mengganggu keseharianku. Agar tampak seperti biasanya, aku tak perlu berpura-pura baik-baik saja terhadap apa yang aku rasakan.

Belakangan ini aku belajar banyak dari artikel dan postingan yang dapat membantuku untuk meregulasi serta memvalidasi emosi secara lebih baik, agar hubunganku dengan orang lain dan hubunganku dengan Sang Pencipta dapat aku lakukan dengan baik selayaknya dan semestinya di tengah terpaan badai kehidupan yang tak bisa kita terka, tak bisa kita sangka, tak bisa kita minta untuk dijauhkan dari beberapa penggal masalah hidup.

Hal yang paling sering mengganggu pikiranku dan cukup intens beberapa bulan terakhir adalah perasaan cemas akan kehilangan. Dimana waktu yang kita miliki ataupun waktu yang dimiliki oleh orang-orang di sekitarku bukanlah sebuah hal atau peristiwa yang bisa diterka, batas umur dan waktu tiap orang yang telah dituliskan-Nya bukanlah hal yang dapat diterka. Namun pemikiran yang amat menggangguku bukanlah tentang peristiwa berlangsungnya kehilangan itu sendiri, namun peristiwa setelah kehilangan itu sendiri. Peristiwa setelah kehilangan bukanlah hal yang dapat dipulihkan dalam sekejab, tentu ada masa-masa terberat sesaat setelah kejadian itu berlangsung. Aku sangat memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang merasa ditinggalkan setelahnya. Jika mengingat hakikat manusia yang hidupnya sementara dan ingat kembali akan salah satu firman-Nya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah titipan, mengapa manusia begitu bisa merasa amat sangat kehilangan? Sedangkan kita juga tahu bahwa raga maupun jiwa akan selalu kembali pada Sang Pemilik Hakiki, namun mengapa harus ada perasaan sedih akan kehilangan? Mengapa perasaan tersebut diciptakan dalam hati manusia, ada maksud apakah Tuhan menciptakan perasaan tersebut? Pemikiran ini benar-benar menggangguku. Kecemasan akan peristiwa kehilangan benar-benar meruntuhkan rasa percayaku bahwa aku masih punya masa depan. Seakan kematian begitu lekat membayang, namun kedekatanku pada Ilahi tak kunjung terpulihkan. Aku .... mengapa... ?

No comments:

Post a Comment