Monday, 9 May 2022

Kembali Menjadi Asing

 Berapa banyak hari yang bisa kau lalui dengan orang-orang baru. Dengan adanya mereka di hidupmu? Setahun? Dua tahun? Tiga tahun? Atau selamanya? Hingga tutup usia? Tidak, tidak ada yang tahu, bahkan sang waktu kerap bisu. Dirahasiakannya segala kemungkinan-kemungkinan itu, dipendamkannya masa depan yang kerap kali tak sesuai harapan. Perasaan hampa bukanlah satu-satunya yang kerap datang saat sendiri dalam sebuah ruang. Ada perih yang diam-diam suka memadu rasa.

Ada harap yang selalu dipatahkan oleh kenyataan. Kadang aku berpikir, mengapa jalanku tak semudah orang-orang di luar sana? Sesederhana bertemu lalu memutuskan untuk bersama? Apa ini semacam kutukan bagiku? Doa-doa dari orang-orang yang tak senang dengan pencapaian orang lain bisa begitu saja kah dikabulkan-Nya? Bukankah Ia hanya menerima doa-doa yang baik saja?

Mengapa raguku begitu besar pada-Nya, sedangkan pertolongan-pertolongan yang ku anggap kecil dan tak berarti kerap di layangkan-Nya. Sesederhana ketika aku meminta sebuah keadaan tertentu, diberikan jalan keluar untuk pulang, dilancarkan jalanku untuk mencari rezeki. Mengapa hati manusia ini tak pernah merasa cukup. Aku merasa lelah, merasa berdosa, merasa sendiri dan tidak dapat melakukan apa-apa.

Cintaku ini apakah benar hanya akan berakhir pada-Mu, Tuhanku. Apakah pengabdian diri ini tak akan pernah berlabuh pada satu hati manusia manapun? Maka gerangan seperti apa sosok yang akan menemaniku dalam surga-Mu? Ah, terlalu naif kah diri yang kotor ini untuk mendapatkan surga?

Tuhanku, aku berada pada sebuah ambang, antara yakin dan ragu. Antara berpasrah dan menyerah. Aku ingin tahu seperti apa akhirku, namun aku juga terlalu takut jika kelak tak sesuai harapanku. Itukah sebabnya Kau merahasiakan semuanya? 

Tuhanku, begitukah cara-Mu mendekatkan diriku pada-Mu, dengan cara Kau patahkan seluruh harapku pada ciptaan-Mu? Sebesar itukah yang harus berulang kali ku tanggung? Kadang ada masa dimana aku sudah tidak mau lagi berada pada keadaan seperti ini, namun rencana-Mu yang tidak pernah ku duga-duga itu selalu menjadi penyamun yang memporak-porandakan prinsip hidupku.

Tuhanku, jika memang aku ditakdirkan untuk sendiri dan cinta ini hanya berlabuh untuk-Mu, jika memang tiada akan ada makhluk ciptaan-Mu yang dapat menyandingkan ku di dunia ini. Maka ku mohon, ku mohon dengan sangat. Jangan hadirkan sesiapa pada jalan yang ku lalui ini, jangan lagi Kau ulangi takdir cinta yang berulangkali porak-poranda ini. Aku lelah, aku sungguh-sungguh sangat lelah.

No comments:

Post a Comment