Tiada yang bisa dibenarkan dari sebuah pendapat dalam menyamaratakan keadaan. Setiap orang memiliki pilihan dan kemauan dalam bertindak, tugas kita hanyalah memberikan dukungan yang baik kepada setiap orang. Adalah hal yang tidak sepenuhnya mutlak dapat dinilai oleh mata manusia. Ego dalam diri manusia menunjukkan siapa dirimu sebenarnya di media sosial adalah upaya yang kau lakukan untuk menutupi kepahitan yang tidak ingin orang lain mengetahuinya.
Kamu adalah diriku, betapa tidak, sudah lama aku tertanam dalam sanubarimu. Pengalaman demi pengalaman, pertemuanmu dengan orang-orang baru membuatmu menjadi pribadimu yang saat ini. Aku amat sangat mengerti terkadang kamu menyesali kepribadian yang ada pada dirimu saat ini, berhadap kepribadian sejati di masa kecilmu itu utuh dan muncul kembali. Tapi segalanya tak semudah itu, kadang berkali-kali kamu menegaskan diri dan mencoba untuk berbaur dengan orang-orang bersebrangan dengan kepribadian dirimu yang saat ini, nyatanya justru semakin membuat dirimu rapuh kan? Semakin membuat segala langkah yang sudah kamu rencanakan seperti apa adanya dirimu saat ini jadi penuh dengan keraguan. Upayamu untuk membangkitkan kepribadianmu yang dahulu bukannya berhasil, yang ada malah kamu semakin menyalahkan dirimu sendiri karena kamu tidak bisa berupaya seperti apa yang kamu harapkan.
Segala hal yang kamu posting di sosial media mu, segala hal positif yang kau bagikan secara daring, segala hal yang kau upayakan hanya akan membangkitkan kenangan-kenangan pahit yang kamu tutupi seolah-olah segalanya baik-baik saja. Seolah-olah kamu baik-baik saja, diliputi kebahagiaan, diliputi orang-orang yang berpandangan sama, diliputi oleh semangat belajar di masa mudamu. Tidak lelahkah kamu?
No comments:
Post a Comment