Robert sudah menemaniku mengarungi hari penuh kebahagiaan selama 6 hari tanpa jeda. Seperti kebiasaan dahulu yang gemar sekali makan makanan pedas dan juga minum kopi kesukaannya yang sudah 6 bulan belakangan tidak bisa ia lakukan. Ia senang sekali ketika aku menginginkan dia untuk kembali mencoba segala hal hal yang membuatnya senang. Begadang higga dini hari, blingsatan saat malam menyetel musik keras-keras, adiksi kopi yang memberi energi dan sumber daya bahagia dan semangatnya. Tidak tanggung-tanggung, bersama Lyrin ia mengajaknya untuk membuat sebuah karya, tidak hanya sebuah, namun 4 sekaligus malam itu. Ia mengajak Lyrin berbincang dengan penuh visi yang meluap-luap dalam dada nya. Dengan sumpah serapah refleksi dari kesedihan Lyrin terhadap hidupnya.
Mari tertawakan hidup, ajaknya lagi. Tertawakan saja semua, jalani dengan topeng kepalsuanmu. Seseorang pernah berkata padaku, kita pantas diperlakukan seperti ini oleh keadaan. Karena memang beginilah nasib kita. Kamu tak perlu sedu sedan itu, tangismu hanya boleh di sepuluh menit awal. Menit berikutnya kemudian amarah memegang kendali, cara Robert merefleksikan kesedihan benar benar bertolak belakang dengan Lyrin.Aku benar-benar bias di antara keduanya. Selisih paham emosi dan perasaan yang begitu tampak berbeda. Berganti dengan tempo yang tidak jelas kapan ritmenya. Siapa yang lebih mendominasi? Robert tidak pernah merasa puas akhir ini, ia merasa segalanya harus dilakukan sesuai kehendaknya. Entah mengapa kehadirannya begitu mendominasi. Apa yang akan ia rencanakan setelah ini? Pikirku begitu was was. Aku sudah lama dibungkam, aku yang tidak memiliki kepribadian apapun ini berada bias di antara mereka. Ragu mempertimbangkan antar keduanya. Siapakah aku? Pertanyaan itu barangkali tak pernah ku temukan seumur hidupku.
Robert cukup. Teriakku. Ia abai, amarahnya membungkam seluruh inderaku, tanpa bisa berkutik.
Para pencuri telah merampas kilas sadarmu, orang-orang munafik di luar sana berbahagia akan penderitaan mu. Jangan lemah sayang, ujar Robert.
Robert menamparku cukup keras, seakan pemberontakan besar yang akan ia lakukan terhalang oleh tindakan ku dan Lyrin. Ia sangat marah pada keadaan, pada dirinya sendiri, pada perjuangannya juga padaku. Terlintas di pikiran nya untuk membunuh eksistensi ku, namun Lyrin selalu berhasil untuk menggagalkan upayanya.
Brengsek, penghianat, bedebah, keparat, bodoh.. sangat bodoh... kamu... kamu harus lenyap dari tubuh ini...
Ia terperangkap dalam sanubari, menahan sesak di dada yang tak pernah bisa berhenti.
No comments:
Post a Comment