Sunday, 14 November 2021

Pintu Hati

Pria itu menyeka aliran-aliran air mata yang menggenang pada pelupuk matanya, seketika derai itu lesap dengan sapuan lembut tangan pada pipinya. Ia tak mengerti bagaimana segala hal yang membuat sesuatu itu patah dan remuk berkali-kali dapat secepat itu dipulihkan dengan kehadiran sosok baru yang benar-benar asing.

Segala kebersamaan dan perhatian yang semula ia tepis, segala pengakuan akan berkasih-kasih hati memulihkan segala luka yang ia anggap muskil, nyatanya ada pada sebuah kenyataan yang mana ia tak lagi dapat menepis dan menyangkal kehadiran sosok itu dalam hidupnya. Sekuat apapun ia menyangkalnya, menganggap pria itu bukanlah seseorang yang ia anggap penting.

Kehidupan sekelebat dan fana ini menjatuhkan ku berkali-kali pada harap dan juang yang berujung kecewa. Ia selalu bisa menyaksikan bagaimana sekeping hati manusia itu begitu rapuh namun juga begitu cepatnya memulihkan diri. Ia bsa meihat gurisan coreng moreng luka yang menghiasi segenggam hati manusia yang begitu menjatuhkan diri pada harap harap keindahan cinta, dibuai oleh ekspektasi masa muda yang mendera. Ia berkali-kali terluka, berkali-kali disakiti dengan cara yang berbeda orang yang berbeda, cerita yang berbeda, namun dengan rasa sakit yang sama.

Ia pikir pengalaman berkali-kali tersakiti membuatnya terlatih dan merasa mati rasa jika kekecewaan harap pada seseorang yang ia anggap segalanya itu menyakitinya, atau kejadian yang sama terulang kembali. Namun kenyataanya, sama. Sama saja rasa sakinya, meskipun ia sudah mencoba untuk menegarkan diri, menguatkan batin.

Ada masa pula ketika ia sudah jenuh, sudah bosan akan perasaan jatuh cinta dan menaruh harap pada yang tak sungguh-sungguh peduli. Namun, ketika masa masa itu sedang ia lewati. Ada saja yang mencoba hadir mengisi hari-harinya, ada saja yang berusaha kembali membuka hatinya yang sudah terkoyak-koyak dan tercabik-cabik oleh rasa sakit. Nasib percintaanya tak semulus jalan pendidikan yang ia tempuhi, tak selancar doa sang ibu saat mengharapkan kelancaran rezeki untuk anaknya.

Beberapa diantaranya mencoba menahan pintu-pintu hatinya yang ia coba untuk tutup. Kemudian akan ia palangi dengan plang "Tidak menerima tamu". Ada yang secara tergesa membuka pintu-pintu hatinya, ada yang n=menggedor-gedor dengan kasar, ada yang mencoba dengan mencongkel engsel pintu hatinya. Tidak ada yang mempan, semua terlempar dari ranah halaman hatinya, seperti kerasnya usaha orang-orang itu untuk membuka kembali pintu hatinya. Sekeras itu pula orang-orang itu tertolak untuk memasuki kisi hatinya. Namun ada satu orang, satu orang ini, pria ini yang dengan lembut mengetuk kisi pintu hatinya, berucap salam dengan tutur lembut, menekan bel pada samping pintu hatinya tanpa tergesa-gesa. Bersabar menunggu sang pemilik pintu membuka dan memberikan izin ia ntuk masuk.

Hari pertama pria itu mencoba mengetuk kisi pintu hatinya, tidak langsung pemilik itu bukakan. Hari kedua, hari ketiga, minggu pertaa, minggu kedua seterusnya, hingga berbulan dan bertahun-tahun berlalu. Pria itu tetap dengan sabar mengetuk pintu hati pemilik rumah. Bukan tidak ada perubahan sama sekali, pemilik rumah perlahan-lahan menunjukkan kehadirannya di pintu itu, namun tidak langsung bergegas ia buka. Ia amati tamu yang setiap jam-jam tertentu datang mengetuk kisi pintu hatinya. Ia kadang bertanya-tanya dan menanti kehadiran tamu yang biasa mengetuk pintu itu jika sehari atau dua hari saja pada jam yang sama pria itu tidak datang.

Sampai akhirnya kesabaran tamu hatinya berbuah manis, sang pemilik rumah membuka grendel pintu, rantai dan gembok. Membukanya untuk pertama kalinya, menyerahkan segenap ruang hatinya untuk pria itu, pria yang sabar menanti keterbukaan hati sang pemiliknya. Senyum merekah diantara keduanya. Diantara samar-samar tatap dan wujud yang tak sempurna, keadaan yang tak sama, alur kisah hidup dan latar belakang cerita kehidupan yang berbeda. Mereka berdua menyempurnakannya dengan cinta.



No comments:

Post a Comment