Saturday, 21 August 2021

Terapi Bagi Jiwa (1) Catatan di balik dunia yang hening.

Maaf jika aku hanya mampu bercerita lewat tulisan tulisan ini. Aku tak peduli jika suatu saat tulisan ini akan dikenal atau bahkan hanya menjadi salah satu tulisan tanpa seorangpun pernah membacanya di kanal dunia maya, dan hanya tersimpan di sebuah page halaman publik tanpa ada yang pernah singgah ataupun bersua. Aku menuliskan apapun yang ada dalam benakku di dalam blog ini. Mengetikkan segala yang ada di dalam isi kepala. Aku menerapkan ini sebagai terapi diri, tidak muluk muluk dan berharap mendapatkan banyak atensi.

Menulis bagiku adalah terapi bagi jiwa, menjaga agar segala penat di kepala tercurahkan hanya lewat yang ku ketik pada tiap paragraf cerita. Agar tidak mengendap dan meracuni diri menjadi puncak ketidakstabilan emosi, hingga bertumpah ruah pecah hingga mengakar pada serabut serabut gema tanpa wujud, menghantui isi kepala. Mewaraskan segala ketidaknormalan hidup bukan hal yang mudah diobati. Terkadang korelasi antara kesadaran dan kemabukan duniawi benar benar tipis, bagaimana perasaaan seseorang bisa berubah wujud dengan begitu drastisnya.

Dan kali ini izikan aku bercerita, pada paragraf dan penggalan kata, pada benda tak bernyawa. Karena dengan ini aku tak perlu merasa dihakimi atas apa yang ada di isi kepala.

Pengujung bulan ini terasa berat bagiku karena bulan berikutnya merebak wangi musim gugur bulan September. Mengapa hal itu begitu penting? Karena pada bulan itu lah hati terakhirku singgah dan menautkan dermaga. Namun ia lantas mengusirku dengan halus, dengan kehadiran hati baru yang dikendaki pemilik dermaga. Disambutnya kehadiran hati baru itu dengan suka cita dan perayaan semalam suntuk. Aku kemudia pergi tanpa pamit, karena sang pemilik dermaga pun sudah barang tentu tidak akan menanti pamit ku. Cukup 3 kali ku berpikir, cukup 3 kali saja air mata ku mengalir untuk sesuatu yang tidak pernah menganggap berarti kesinggahanku dalam beberapa tahun melabuhkan diri. Sedih memang namun kesedihan itu tak perlu berlarut larut hingga membuat bobot tubuh susut.

Mengapa aku bisa tampak begitu tegar menghadapi ini semua, tidak maukah berjuang semi keindahan cinta sejati yang orang menyebutnya demikian? Mungkin ada terbesit di hatimu kemudian bertanya mengenai itu? Aku sudah pernah memperjuangkan hal itu. Aku sudah banyak belajar pada bulan Februari dan berterimakasih karenanya, bulan yang bertepatan dengan kelahiran orang yang kucintai dan kelahiran diriku ini. Dan entah kebetulan atau bagaimana, di bulan yang sama pula terlahir seseorang yang ku anggap sebagai cinta masa muda, cinta pertama. Layaknya remaja pada umumnya, kami menjalani hari hari yang bahagia, bercanda berdua, bercengkrama layaknya dua orang insan yang dimabuk kepayang akan cinta. Kedekatan kami bukanlah rumor yang diada ada, semua murni terjalin dan mengalir begitu saja, namun hati manusia siapa yang bisa terka? Aku memberikan ruang terlalu banyak untuknya tanpa tahu siapa yang sebenarnya menyinggahi hatinya. Aku memberikan terlalu banyak waktu untuknya, tanpa penah mau tahu kepedulian sejatinya ia tunjukkan untuk siapa. Aku membutakkan diri dari fakta bahwa ia hanya mendekatiku untuk mengambil hati orang lain yang singgah di hatinya. Dia adalah sahabatku sendiri. Aku benar benar serasa dipukul telak oleh kenyataan remeh temeh cinta monyet ini dengan kehilangan dia, pun juga kemungkinan akan kehilangan sahabat ku ini.

Namun kekhawatiranku dijawab oleh semesta, dalam alur cerita romansa remaja yang unik dan penuh pergolakan dan penolakan - penolakan. Ini benar benar mengubah sudut pandang ku akan sebuah harapan dan juga cinta. Sungguh kenyataan pahit begitu perih dan membekas, namun pelajaran berharga dan tak ternilai dengan materil duniawi adalah ganjaran yang setimpal bagi rasa sakit yang telah dihadapi oleh diri. Dan dampaknya adalah kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dari sebelumnya, bagi yang mampu mengambil pelajaran di sana. Cukup lama diri ini memulihkan diri, karena kata orang orang cinta pertama begitu indah dikenang kan? Terlepas berakhir indah maupun tidak. Bagiku mungkin, begitu beruntungnya orang-orang yang sedari dini sudah dipertemukan dengan jodoh nya di dunia ini, berkenalan lalu berteman kemudian menikah, mulus saja rasanya seperti jalan tol. Hahaha. Tapi, segera ku tepis lagi pernyataan itu, karena aku percaya dibalik kemudahan kemudahan yang Allah berikan kepada seseorang hamba, kita tidak tahu bahwa ada kesulitan lain yang sedang orang itu hadapi namun tidak ia tampakkan. Dan kita selaku netizen hanya bisa melihat sesuatu dari kulit luarnya saja.

Oh ya, kembali ke bahasan awal. Cukup lama diri ini memulihkan diri, tepatnya 7 tahun lamanya berharap pada orang yang sama, menutup mata seakan segala ini bisa diperjuangkan, mengambil hati dan perhatiannya dengan berjuang habis habisan. Belingsatan seperti seorang kerdil yang menginginkan buah buahan di pohon yang tinggi, sedangkan dia sendiri tidak bisa memanjat. Hahaha. Hari demi hari keinginanku akan nya menjadi sebuah penyakit obsesif komplusif akut, seperti seorang pengintai, memata matai kesehariannya, dimana tempat tinggalnya, sedang ada dimana dia, dia sedang apa, secara diam diam. Aku sampai memiliki fake akun sosial media dan nomor handphone yang berbeda untuk memantau aktivitas sosial medianya. Lama kelamaan pun ia menyadari juga bahwa aku yang selalu mengintainya, yang tidak tahu malu menyatakan keinginan hati ini padanya, sedang aku tahu bahwa ia tak berminat apapun terhadapku, pun dalam kurun waktu 7 tahun itu dia bergonta ganti pacar, aku seorang bodoh ini masih juga belingsatan memperjuangkan keegoisan batin, apa saja demi dia. Sampai akhirnya dia risih sendiri, dia menjauhiku, menjauh pun secara fisik pergi jauh, aku yakin dia pasti membenciku hingga saat ini. 

Sampai puncaknya aku memutuskan untuk tidak terjerat pada obsesif komplusif dan segala ketidakwarasan ini pada suatu malam ketika terakhir kali aku menangisinya, dan mendapat kabar bahwa ia memiliki pacar baru lagi. Sudah cukup batinku, merendahkan harga diri seperti ini bukanlah jalan yang waras untuk ditempuh. Aku bisa bisa gila jika terus memusatkan obsesiku padanya. Setelah belajar merelakannya dan tidak lagi mencari tahu tentangnya, aku lumayan bisa bernafas lega, batinku terasa lepas dari jeratan jeratan yang membelenggu kebebasanku untuk mencintai diri sendiri lagi.

Kini aku kembali dengan hati dan jiwa yang lebih tangguh dari sebelumnya, dengan citra diri yang lebih utuh dari tahun tahun rapuh dan penuh luka. Pelajaran berharga yang aku yakini hingga kini yaitu  konsep tentang mencintai dan penolakan. Penolakan memang sebuah kenyataan hidup yang pahit dan sakit untuk kita terima, namun dari segalanya yang terjadi, bisa saja itu adalah sebuah teguran bagi diri kita, bahwa Allah itu cemburu. Iya Allah cemburu kalau kamu lebih mencintai makluk ciptaan-Nya daripada Sang Penciptanya. :) 

No comments:

Post a Comment