Aku tak pernah mengerti bagaimana cinta bisa hadir
pada dua hati yang bahkan sebelumnya tak pernah saling mengenal dan tak pernah saling tahu bahwa mereka kelak
akan dipersatukan. Tak ada yang mengerti bagaimana jalan sebuah takdir bahkan
misteri yang terpatri di depannya, seperti kabut yang membatasi pandangan kita,
kita tahu bahwa ada jalan yang membentang di hadapan kita namun kabut
menyamarkannya.
Tak banyak yang bisa ku ceritakan, seperti saat
perjumpaan pertama dengannya. Entah mengapa saat keempat kalinya pertemuan itu,
hatiku mulai diliputi keyakinan akan takdir-Nya untuk menapaki kehidupan
bersama seseorang yang bahkan belum pernah ku kenali sebelumnya. Orangtua kami
saling kenal dekat tentu saja saat akhir-akhir sebelum pertemuan dengannya
bermula ibuku selalu membicarakan tentangnya. “Orangnya baik lho nak, soleh,
patuh sama kedua orangtua, percaya sama ibu dan ayah. Tapi kalo kamu nolak juga
gak apa-apa semua keputusan ada di kamu , toh ini bukan perjodohan”. “Ta’aruf
kan maksud ibu, iya bu Anis ngerti kok,” jawabku sambil tersenyum.
Ayat terakhir Surah Ar-Rahman terlantun dari
suaranya beberapa saat setelah ayahku memintanya melafalkan salah satu surah dari
ayat suci Al-Qur’an. Itu adalah
pertemuan keempatku dengannya, tepat di lantunan ayat terakhir keyakinanku akan
takdirNya muncul setelah lama aku menutup diri akan kehadiran seseorang yang
bahkan akan menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Tidak lama sekitar sebulan
setelah aku menyetujui khitbah itu, persiapan pernikahan kami pun dimulai. Dua
bulan untuk meyiapkan segalanya mulai dari gaun, persiapan acara, undangan
hingga catering. Hari pernikahan pun tiba dan berjalan dengan lancar. Kehidupan
baruku kini dimulai.
Kami tinggal di sebuah perumahan sederhana dan
asri, pernikahan kami belum dapat dikatakan bahagia atau juga tidak, karena
meskipun aku dan dia sudah tahu sifat masing-masing melalui orangtua kami , kami
bahkan masih sangat jarang berbicara segalanya terasa kaku. Terlebih dari sifat
kami yang sama-sama pendiam, tentu butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan
dan lingkungan baru. Namun aku percaya padanya dan aku yakin seiring
berjalannya waktu dan kebersamaan yang kami lewati perasaan satu sama lain akan
tumbuh dengan sendirinya.
Hari-hari berjalan seperti biasanya, setiap pagi aku
membuatkannya sarapan sebelum ia pergi ke kantor. Ia bekerja di sebuah
perusahaan telekomunikasi dan aku sebagai copy-writer freelance tentu tidak
harus tiap hari datang ke kantor. Setiap pagi tak banyak yang kami bicarakan namun
tiap hari aku selalu berusaha untuk mencoba berbicara lebih sering padanya
untuk membuat segalanya lebih harmonis. “Ini makanan kesukaan mas, enak kan.
Aku buatnya spesial lho,”aku meletakkan beberapa sajian masakan di atas meja. “Hm,
enak.”hanya itu tanggapannya, ia tak pernah berbicara banyak bakan saat-saat
aku meminta pendapatnya. Tak pernah berbicara atau mengecup keningku tanpa aku
dahulu yang meminta. Segalanya jadi terlihat samar, aku tak lagi dapat membaca
apa yang dirasakannya atau apa yang ada dalam fikirannya.
Aku merasa ada hal
yang tersembunyi yang tak ku ketahui tentangnya, tentang masa lalunya. Setiap
malam selalu ku sempatkan untuk berbicara dengannya membicarakan tenang segala
hal yang kulalui hari ini, menceritakan segala hal tentang diriku tentang masa
laluku tak ada satupun yang kusembunyikan darinya. Namun ia berbeda, setiap aku
bertanya tentangnya, atau masalah apa saja yang ia lalui di kantor,
tanggapannya selalu sama. “Are you okay?”tanyaku. “I’m okay, gak ada masalah kok,
semuanya baik-baik aja kamu gak usah kawatir ya”. Pernah terbesit olehku
tentang keraguan akan ketulusannya dan kutanyakan padanya apakah ia menyesal telah
memilih diriku sebagai teman hidupnya karena masa laluku yang mengecewakan
baginya. Ia hanya berkata “Tidak, jangan pernah berfikiran seperti itu, semua
orang memiliki masa lalu dan aku menerima semua itu” kemudian ia mengelus
lembut keningku. Aku tahu benar ia orang yang jujur dan setia, walaupun
sikapnya sangat dingin terhadapku.
Setiap aku beranjak
tidur, ia selalu sibuk dengan urusan pekerjaanya ia jarang sekali beristirahat.
Hampir setiap hari ia tertidur di meja kerjanya. Aku selalu mengingatkannya
untuk tidak terlalu memaksakan diri dan menyempatkan waktu istirahat demi
menjaga kesehatannya tapi ia lebih sering mengabaikan hal itu. Terkadang aku
merasa lelah, karena sering segala perhatianku seperti tak berarti apapun
baginya. Bahkan ia seperti tak terlalu peduli padaku dan tidak tertarik menanggapi apapun yang aku katakan
padanya tidak pernah memujiku atau menunjukkan kesalahanku, ia terlalu sibuk
dengan dunianya. Pernah suatu malam aku menjukkan undangan ceremony ulang tahun
perusahaan di kantorku padanya. “Mas, aku ada undangan ceremony perusahaan di
kantor nih. Dan tadi aku habis dapet royaliti dari kantor, alhamdulillah karena
bos dan client aku tertarik sama ideku”. “Oh ya, bagus dong”. “Kamu mau dateng
ke ceremony ulang tahun perusahaan sama aku mas ?”. “Aku ada meeting sama
client besok”jawabnya.”Selalu itu jawaban kamu, gak cuma sekali, undangan
pernikahan temen aku, ulang tahun temen aku semua kamu tolak dengan alasan yang
sama. Kamu gak pernah sempetin waktu buat aku”.
Sebagai seorang
wanita, aku merasa tidak dipedulikan. Pernah pada puncaknya aku menyatakan semua
perasaan yang menggangguku selama ini padanya. “Aku cuma mau kamu peduli sama
aku mas, itu aja. Kenapa sih sikap kamu dingin terus sama aku? Aku salah apa, aku
kurang peduli apa, kurang terbuka apa sama kamu. Kamu terlalu sibuk sama dunia
kamu sendiri, semua kerjaan kamu itu”. “Maaf , Nisa, mas gak bermasud begitu. Mas
kerja keras buat masa depan kita”. “Masa depan kita? Sampe kamu gak ada sedikit
aja buat peduliin aku”. “Mas butuh waktu,Nisa.” “Sampai kapan? Sampai kapan
mas? Sudah hampir setahun pernikahan kita aku masih selalu sabar nunggu kamu,
aku fikir kamu bisa berubah, bisa lebih peduli sama aku kamu udah janji mau
berubah, tapi apa? Kamu keterlaluan, kamu egois mas”. Ia hanya tertunduk tak
mampu berbicara apapun, air mataku mengucur deras aku lantas pergi dari hadapannya
dan mengunci pintu kamar. Lihat, ia bahkan hanya bisa terdiam tak memberikan
penjelasan penuh akan alasannya memperlakukanku seperti ini. Aku mendengar
suara PC dihidupkan, seperti malam biasanya ia menjutkan rutinitas
pekerjaannya. Tidakkah ia peduli dengan perasaaanku? Perasaan seorang wanita
yang juga butuh akan kepeduliannya?
Pagi hari pun tiba, saat
menuju dapur aku mendapati makan telah tersaji di meja makan. Tidak ada orang
lain di rumah ini selain aku dan dia, kami sedari awal tidak pernah
memperkerjakan seorang asisten rumahtangga. Pasti ia yang melakukan semua ini,
pikirku. Aku mencarinya di dapur bahkan di ruang kerjanya tapi tak ku dapati
apapun selain hp nya yang entah disengaja atau tidak tertinggal di meja
kerjanya, kendaraanpun sudah tidak terparkir di depan rumah jelas ia sudah
sejak pagi-pagi sekali untuk berangkat kerja. Aku mulai merasa tak enak
padanya, apakah ia melakukan semua ini karena perkataaanku semalam. Bukankan
yang aku katakan terlalu menyakitkan baginya. Tapi di sisi lain akupun
membutuhkan perhatiannya. Aku kemudian bersiap-siap dan menyantap sarapan di
meja makan yang ia masakkan untukku.
Hari itu aku bertemu
dengan adik sepupunya Rina di restoran dekat kantorku saat jam makan siang.”Eh
mbak Anis, kebetulan bisa ketemu di sini”. “Iya dek, eh kamu udah pesen makan
siang?”. “Belum mbak”. “Yuk pesen dulu mbak traktir deh, kamu mau apa?”. “Ah,
mbak repot-repot deh”.”Udah gak apa-apa gak usah ngerasa gak enak sama mbak”.Makanan
yang kami pesanpun sudah teraji. “Eh mbak kok ngelamun sih, lagi ada masalah?”.
“Ah enggak kok dek”. “Mbak gak pernah bisa bohong, adek tau kok mbak lagi ada
masalah. Mbak sama mas gak lagi berantem kan?”. “Gak kok dek, kami baik-baik
aja. Udah deh gak usah terlalu kawatir ok” Aku menyunggingkan senyum kaku ke
arah dik Rina. “Hm, ya udah deh kalo mbak belum mau cerita gak apa-apa. Oya
adek minta foto-foto pernikahan mbak donk, hp adek abis ilang soalnya jadi
foto-foto yang kemaren udah gak ada lagi deh”. “Iya bentar ya dek”, aku
mengecek hp ku untuk mencari foto-foto yang diminta dik Rina. “Hm, di hp mbak
gak sengaja ke format kemaren dek, sorry”.”Yah padahal adek pengen minta mbak”,
Ia menunjukkan raut muka cemberut.”Udah jangan cemberut dek, jelek tau hehehe,
oya di hp mas mu kayaknya ada deh foto-fotonya. Nih ada tuh, liat-liat aja dek
mana yang mau dikirim”. “Oke deh mbak.” Tak lama sejak Rina melihat-lihat foto
pernikahan , ia kemudian menyenggol tanganku dengan menunjukkan raut muka
terkejut.”Loh mbak, ini kok ada foto pernikahan mbak Nia sama suaminya ya”. “Mbak
Nia itu siapa dek?”. “Itu mbak Nia temen deketnya mamas dari SD, padahal waktu
pernikahannya mbak Nia mamas diundang tapi dia gak dateng mbak, tiba-tiba dia
bilang sakit jadi gak bisa dateng. Ya dan setelah adek jengukin mamas beneran
sakit , sakit demam gitu mbak selama seminggu kalo gak salah”. “Sakit, sampe
seminggu?”tanyaku heran.”iya mbak, sejak saat itu sifat mamas jadi aneh lebih
cuek dan pendiem gitu mbak”. “Loh bisa gitu ya,menurut adek kenapa mas nyimpen
foto pernikahan Nia?”. “Ntah, adek juga gak tau mbak.” Perjumpaan ku dengan
Rina saat itu mulai menerangkan peristiwa apa yang diam-diam mas sembunyikan
dariku. Aku benar-benar butuh penjelasannya mengenai ini.
Aku baru tiba di rumah
sekitar pukul 8 malam karena jalanan macet, setibanya di rumah aku bertemu
dengannya. Tepat di meja makan telah tersaji makan, dia di hadapanku sekarang.
“Mas semua yang masak ini ya”. “Iya, mau makan?”. “Makasih mas,sampe
repot-repot loh buatin makanan, oya ini
hp nya tadi ketinggalan”. “Gak apa-apa gak ngerepotin kok, Oh iya terimakasih”.
“Mbak Nia siapa mas?”tanyaku. “Darimana kamu kenal?”. “Ada foto pernikahannya
di hp mas, aku tau dari dik Rina.”. “Maaf” ucapnya tanpa ekspresi apapun. “Maaf,
maksudnya? Maaf kenapa mas?” tanyaku lagi penasaran. Aku melihat ekspresi
wajahnya mulai berubah, tampak guratan kepedihan yang tak pernah ia tamakkan
sebelumnya, air matanya pelahan mulai menetes. “Maaf, aku belum bisa
mencintaimu dengan baik,” ia kemudian melangkah pergi menuju garasi dan
mengendarai mobilnya tanpa berkata kemana ia akan pergi, aku hanya terdiam dan
tertunduk tanpa bisa menahannya.
Aku sangat terpukul
mengetahui semua hal ini, mengetahuinya secara langsung. Aku bahkan tak pernah menduganya. Ia yang
ternyata sangat baik padaku meskipun dalam diamnya dalam ketidakpeduliannya ia
menyimpan hal yang paling berat dalam hidupnya. Ia sengaja menyembunyikan hal
ini agar tidak menyakiti perasaanku. Tapi setelah aku mengetahui semuanya
mengetahui alasan dari sika dinginnya kepadaku, aku merasa sakit. Lebih dari itu aku mengerti perasannya aku pernah
merasakan diposisinya sekarang ini, ya cinta pertamaku yang pada akhirnya harus
ku relakan, aku tahu tidak mudah baginya untuk mewati semua ini. Namun ikatan
suciku dengannya tidak bisa semudah itu dipisahkan karena alasan dia belum bisa
sepenuhnya merelakan masa lalunya. Aku harus lebih bersabar dan memberinya
waktu untuk dapat menerima semuanya. Menerimaku dalam hidupnya.
Pagi tiba, aku
terbangun dengan mata sembab dan berantakan. Aku tersadar, semalam aku menangis
hingga tertidur, dan hari ini hari Minggu. Harusnya aku dapat mengawali pagi
yang cerah ini dengan perasaan hangat seperti cuaca hari ini, namun segalanya
kini sudah tampak berbeda. Ia belum juga pulang sejak semalam, hp nya masih
tergeletak di meja makan dan makanan masih tersisa bahkan beklum semat
tersentuh. Aku melewati jam makan malamku lagi, pikirku. Aku tak boleh seerti
ini, pikirku aku mulai melakukan rutinitas seperti biasa, untuk membereskan
rumah. Tak terasa malam pun tiba. Jam menunjukkan pukul 8 malam, tepat 24 jam
sejak dia pergi meninggalkanku. Aku tak tahu dia akan kembali atau tidak.
Jam 9 malam, aku masih
menunggunya. Tak lama suara mobilnya terdengar di garasi. Aku yakin dia akan
pulang, yakinku dalam hati. Aku bergegas membuka pintu, betapa terkejutnya aku melihatnya
berdiri di hadapanku dengan pakaian yang masih sama yang ia kenakan kemarin dan
wajahnya yang tampak pucat dan lesu, aku tahu ia belum makan sejak kemarin, ia
sengaja melakukannya. Ia langsung menghapriku dan memelukku dengan erat,
kemudian berkata “Maafkan mamas Nisa, mas salah selama ini, mas akan berusaha
memperbaikinya mulai dari sekarang. Mas pernah bilang bahwa semua orang
memiliki masa lalu dan mas menerima semua itu, semua masa lalu Nisa. Tapi alangkah
bodohnya diri mas yang belum bisa menerima masa lalu mas sendiri. Terimakasih
Nisa sudah sangat sabar selama setahun ini mendampingi dan bertahan dengan
sikap mas yang egois terhadap kamu. Mas sayang kamu. Mari kita mulai awal
kebahagiaan kita , awal kehiduan baru kita dan keluarga kecil kita.” Aku tak
bisa berbicara banyak, aku hanya mengangguk pelan. Air mataku mulai menetes
begitupun dia, tangis haru dua insan mulai berpadu dalam keheningan malam. Ia
mulai melepas pelukannya, dan aku bahkan belum sempat menghaus air mataku. “Tapi
mas harus janji ya, jangan pernah menyiksa diri mas lagi kayak gini, oke ?”kataku,
ia mengangguk dan senyum simul mulai menghiasi wajahnya.
Malam ini menjadi awal
baru bagi hidupku dan hidunya. Keyakinanku akan kesabaran berbuah manis. Aku
yakin kesabaran akan membuat jarak yang jauh menjadi dekat, merubah pahit menjadi
manis, membuat yang hilang menjadi ada. Aku tak lagi berjalan sendirian
melewati gelap terangnya kehidupan. Kehidupan ku tak lagi ganjil karena aku tak
lagi sendiri, tetapi genap karena bersamanya hidupku menjadi utuh dan
tergenapi.
No comments:
Post a Comment