Friday, 20 January 2017

GENAP


oleh Lubna Abidah pada 12 November 2016 pukul 10:00 ·
Aku tak pernah mengerti bagaimana cinta bisa hadir pada dua hati yang bahkan sebelumnya tak pernah saling mengenal  dan tak pernah saling tahu bahwa mereka kelak akan dipersatukan. Tak ada yang mengerti bagaimana jalan sebuah takdir bahkan misteri yang terpatri di depannya, seperti kabut yang membatasi pandangan kita, kita tahu bahwa ada jalan yang membentang di hadapan kita namun kabut menyamarkannya.

Tak banyak yang bisa ku ceritakan, seperti saat perjumpaan pertama dengannya. Entah mengapa saat keempat kalinya pertemuan itu, hatiku mulai diliputi keyakinan akan takdir-Nya untuk menapaki kehidupan bersama seseorang yang bahkan belum pernah ku kenali sebelumnya. Orangtua kami saling kenal dekat tentu saja saat akhir-akhir sebelum pertemuan dengannya bermula ibuku selalu membicarakan tentangnya. “Orangnya baik lho nak, soleh, patuh sama kedua orangtua, percaya sama ibu dan ayah. Tapi kalo kamu nolak juga gak apa-apa semua keputusan ada di kamu , toh ini bukan perjodohan”. “Ta’aruf kan maksud ibu, iya bu Anis ngerti kok,” jawabku sambil tersenyum.
Ayat terakhir Surah Ar-Rahman terlantun dari suaranya beberapa saat setelah ayahku memintanya melafalkan salah satu surah dari ayat suci Al-Qur’an.  Itu adalah pertemuan keempatku dengannya, tepat di lantunan ayat terakhir keyakinanku akan takdirNya muncul setelah lama aku menutup diri akan kehadiran seseorang yang bahkan akan menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Tidak lama sekitar sebulan setelah aku menyetujui khitbah itu, persiapan pernikahan kami pun dimulai. Dua bulan untuk meyiapkan segalanya mulai dari gaun, persiapan acara, undangan hingga catering. Hari pernikahan pun tiba dan berjalan dengan lancar. Kehidupan baruku kini dimulai.
Kami tinggal di sebuah perumahan sederhana dan asri, pernikahan kami belum dapat dikatakan bahagia atau juga tidak, karena meskipun aku dan dia sudah tahu sifat masing-masing melalui orangtua kami , kami bahkan masih sangat jarang berbicara segalanya terasa kaku. Terlebih dari sifat kami yang sama-sama pendiam, tentu butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan baru. Namun aku percaya padanya dan aku yakin seiring berjalannya waktu dan kebersamaan yang kami lewati perasaan satu sama lain akan tumbuh dengan sendirinya.
Hari-hari berjalan seperti biasanya, setiap pagi aku membuatkannya sarapan sebelum ia pergi ke kantor. Ia bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi dan aku sebagai copy-writer freelance tentu tidak harus tiap hari datang ke kantor. Setiap pagi tak banyak yang kami bicarakan namun tiap hari aku selalu berusaha untuk mencoba berbicara lebih sering padanya untuk membuat segalanya lebih harmonis. “Ini makanan kesukaan mas, enak kan. Aku buatnya spesial lho,”aku meletakkan beberapa sajian masakan di atas meja. “Hm, enak.”hanya itu tanggapannya, ia tak pernah berbicara banyak bakan saat-saat aku meminta pendapatnya. Tak pernah berbicara atau mengecup keningku tanpa aku dahulu yang meminta. Segalanya jadi terlihat samar, aku tak lagi dapat membaca apa yang dirasakannya atau apa yang ada dalam fikirannya.
                Aku merasa ada hal yang tersembunyi yang tak ku ketahui tentangnya, tentang masa lalunya. Setiap malam selalu ku sempatkan untuk berbicara dengannya membicarakan tenang segala hal yang kulalui hari ini, menceritakan segala hal tentang diriku tentang masa laluku tak ada satupun yang kusembunyikan darinya. Namun ia berbeda, setiap aku bertanya tentangnya, atau masalah apa saja yang ia lalui di kantor, tanggapannya selalu sama. “Are you okay?”tanyaku. “I’m okay, gak ada masalah kok, semuanya baik-baik aja kamu gak usah kawatir ya”. Pernah terbesit olehku tentang keraguan akan ketulusannya dan kutanyakan padanya apakah ia menyesal telah memilih diriku sebagai teman hidupnya karena masa laluku yang mengecewakan baginya. Ia hanya berkata “Tidak, jangan pernah berfikiran seperti itu, semua orang memiliki masa lalu dan aku menerima semua itu” kemudian ia mengelus lembut keningku. Aku tahu benar ia orang yang jujur dan setia, walaupun sikapnya sangat dingin terhadapku.
                Setiap aku beranjak tidur, ia selalu sibuk dengan urusan pekerjaanya ia jarang sekali beristirahat. Hampir setiap hari ia tertidur di meja kerjanya. Aku selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu memaksakan diri dan menyempatkan waktu istirahat demi menjaga kesehatannya tapi ia lebih sering mengabaikan hal itu. Terkadang aku merasa lelah, karena sering segala perhatianku seperti tak berarti apapun baginya. Bahkan ia seperti tak terlalu peduli padaku dan tidak  tertarik menanggapi apapun yang aku katakan padanya tidak pernah memujiku atau menunjukkan kesalahanku, ia terlalu sibuk dengan dunianya. Pernah suatu malam aku menjukkan undangan ceremony ulang tahun perusahaan di kantorku padanya. “Mas, aku ada undangan ceremony perusahaan di kantor nih. Dan tadi aku habis dapet royaliti dari kantor, alhamdulillah karena bos dan client aku tertarik sama ideku”. “Oh ya, bagus dong”. “Kamu mau dateng ke ceremony ulang tahun perusahaan sama aku mas ?”. “Aku ada meeting sama client besok”jawabnya.”Selalu itu jawaban kamu, gak cuma sekali, undangan pernikahan temen aku, ulang tahun temen aku semua kamu tolak dengan alasan yang sama. Kamu gak pernah sempetin waktu buat aku”.
                Sebagai seorang wanita, aku merasa tidak dipedulikan. Pernah pada puncaknya aku menyatakan semua perasaan yang menggangguku selama ini padanya. “Aku cuma mau kamu peduli sama aku mas, itu aja. Kenapa sih sikap kamu dingin terus sama aku? Aku salah apa, aku kurang peduli apa, kurang terbuka apa sama kamu. Kamu terlalu sibuk sama dunia kamu sendiri, semua kerjaan kamu itu”. “Maaf , Nisa, mas gak bermasud begitu. Mas kerja keras buat masa depan kita”. “Masa depan kita? Sampe kamu gak ada sedikit aja buat peduliin aku”. “Mas butuh waktu,Nisa.” “Sampai kapan? Sampai kapan mas? Sudah hampir setahun pernikahan kita aku masih selalu sabar nunggu kamu, aku fikir kamu bisa berubah, bisa lebih peduli sama aku kamu udah janji mau berubah, tapi apa? Kamu keterlaluan, kamu egois mas”. Ia hanya tertunduk tak mampu berbicara apapun, air mataku mengucur deras aku lantas pergi dari hadapannya dan mengunci pintu kamar. Lihat, ia bahkan hanya bisa terdiam tak memberikan penjelasan penuh akan alasannya memperlakukanku seperti ini. Aku mendengar suara PC dihidupkan, seperti malam biasanya ia menjutkan rutinitas pekerjaannya. Tidakkah ia peduli dengan perasaaanku? Perasaan seorang wanita yang juga butuh akan kepeduliannya?
                Pagi hari pun tiba, saat menuju dapur aku mendapati makan telah tersaji di meja makan. Tidak ada orang lain di rumah ini selain aku dan dia, kami sedari awal tidak pernah memperkerjakan seorang asisten rumahtangga. Pasti ia yang melakukan semua ini, pikirku. Aku mencarinya di dapur bahkan di ruang kerjanya tapi tak ku dapati apapun selain hp nya yang entah disengaja atau tidak tertinggal di meja kerjanya, kendaraanpun sudah tidak terparkir di depan rumah jelas ia sudah sejak pagi-pagi sekali untuk berangkat kerja. Aku mulai merasa tak enak padanya, apakah ia melakukan semua ini karena perkataaanku semalam. Bukankan yang aku katakan terlalu menyakitkan baginya. Tapi di sisi lain akupun membutuhkan perhatiannya. Aku kemudian bersiap-siap dan menyantap sarapan di meja makan yang ia masakkan untukku.
                Hari itu aku bertemu dengan adik sepupunya Rina di restoran dekat kantorku saat jam makan siang.”Eh mbak Anis, kebetulan bisa ketemu di sini”. “Iya dek, eh kamu udah pesen makan siang?”. “Belum mbak”. “Yuk pesen dulu mbak traktir deh, kamu mau apa?”. “Ah, mbak repot-repot deh”.”Udah gak apa-apa gak usah ngerasa gak enak sama mbak”.Makanan yang kami pesanpun sudah teraji. “Eh mbak kok ngelamun sih, lagi ada masalah?”. “Ah enggak kok dek”. “Mbak gak pernah bisa bohong, adek tau kok mbak lagi ada masalah. Mbak sama mas gak lagi berantem kan?”. “Gak kok dek, kami baik-baik aja. Udah deh gak usah terlalu kawatir ok” Aku menyunggingkan senyum kaku ke arah dik Rina. “Hm, ya udah deh kalo mbak belum mau cerita gak apa-apa. Oya adek minta foto-foto pernikahan mbak donk, hp adek abis ilang soalnya jadi foto-foto yang kemaren udah gak ada lagi deh”. “Iya bentar ya dek”, aku mengecek hp ku untuk mencari foto-foto yang diminta dik Rina. “Hm, di hp mbak gak sengaja ke format kemaren dek, sorry”.”Yah padahal adek pengen minta mbak”, Ia menunjukkan raut muka cemberut.”Udah jangan cemberut dek, jelek tau hehehe, oya di hp mas mu kayaknya ada deh foto-fotonya. Nih ada tuh, liat-liat aja dek mana yang mau dikirim”. “Oke deh mbak.” Tak lama sejak Rina melihat-lihat foto pernikahan , ia kemudian menyenggol tanganku dengan menunjukkan raut muka terkejut.”Loh mbak, ini kok ada foto pernikahan mbak Nia sama suaminya ya”. “Mbak Nia itu siapa dek?”. “Itu mbak Nia temen deketnya mamas dari SD, padahal waktu pernikahannya mbak Nia mamas diundang tapi dia gak dateng mbak, tiba-tiba dia bilang sakit jadi gak bisa dateng. Ya dan setelah adek jengukin mamas beneran sakit , sakit demam gitu mbak selama seminggu kalo gak salah”. “Sakit, sampe seminggu?”tanyaku heran.”iya mbak, sejak saat itu sifat mamas jadi aneh lebih cuek dan pendiem gitu mbak”. “Loh bisa gitu ya,menurut adek kenapa mas nyimpen foto pernikahan Nia?”. “Ntah, adek juga gak tau mbak.” Perjumpaan ku dengan Rina saat itu mulai menerangkan peristiwa apa yang diam-diam mas sembunyikan dariku. Aku benar-benar butuh penjelasannya mengenai ini.
                Aku baru tiba di rumah sekitar pukul 8 malam karena jalanan macet, setibanya di rumah aku bertemu dengannya. Tepat di meja makan telah tersaji makan, dia di hadapanku sekarang. “Mas semua yang masak ini ya”. “Iya, mau makan?”. “Makasih mas,sampe repot-repot loh buatin makanan,  oya ini hp nya tadi ketinggalan”. “Gak apa-apa gak ngerepotin kok, Oh iya terimakasih”. “Mbak Nia siapa mas?”tanyaku. “Darimana kamu kenal?”. “Ada foto pernikahannya di hp mas, aku tau dari dik Rina.”. “Maaf” ucapnya tanpa ekspresi apapun. “Maaf, maksudnya? Maaf kenapa mas?” tanyaku lagi penasaran. Aku melihat ekspresi wajahnya mulai berubah, tampak guratan kepedihan yang tak pernah ia tamakkan sebelumnya, air matanya pelahan mulai menetes. “Maaf, aku belum bisa mencintaimu dengan baik,” ia kemudian melangkah pergi menuju garasi dan mengendarai mobilnya tanpa berkata kemana ia akan pergi, aku hanya terdiam dan tertunduk tanpa bisa menahannya.
                Aku sangat terpukul mengetahui semua hal ini, mengetahuinya secara langsung.  Aku bahkan tak pernah menduganya. Ia yang ternyata sangat baik padaku meskipun dalam diamnya dalam ketidakpeduliannya ia menyimpan hal yang paling berat dalam hidupnya. Ia sengaja menyembunyikan hal ini agar tidak menyakiti perasaanku. Tapi setelah aku mengetahui semuanya mengetahui alasan dari sika dinginnya kepadaku, aku merasa sakit.  Lebih dari itu aku mengerti perasannya aku pernah merasakan diposisinya sekarang ini, ya cinta pertamaku yang pada akhirnya harus ku relakan, aku tahu tidak mudah baginya untuk mewati semua ini. Namun ikatan suciku dengannya tidak bisa semudah itu dipisahkan karena alasan dia belum bisa sepenuhnya merelakan masa lalunya. Aku harus lebih bersabar dan memberinya waktu untuk dapat menerima semuanya. Menerimaku dalam hidupnya.
                Pagi tiba, aku terbangun dengan mata sembab dan berantakan. Aku tersadar, semalam aku menangis hingga tertidur, dan hari ini hari Minggu. Harusnya aku dapat mengawali pagi yang cerah ini dengan perasaan hangat seperti cuaca hari ini, namun segalanya kini sudah tampak berbeda. Ia belum juga pulang sejak semalam, hp nya masih tergeletak di meja makan dan makanan masih tersisa bahkan beklum semat tersentuh. Aku melewati jam makan malamku lagi, pikirku. Aku tak boleh seerti ini, pikirku aku mulai melakukan rutinitas seperti biasa, untuk membereskan rumah. Tak terasa malam pun tiba. Jam menunjukkan pukul 8 malam, tepat 24 jam sejak dia pergi meninggalkanku. Aku tak tahu dia akan kembali atau tidak.
                Jam 9 malam, aku masih menunggunya. Tak lama suara mobilnya terdengar di garasi. Aku yakin dia akan pulang, yakinku dalam hati. Aku bergegas membuka pintu, betapa terkejutnya aku melihatnya berdiri di hadapanku dengan pakaian yang masih sama yang ia kenakan kemarin dan wajahnya yang tampak pucat dan lesu, aku tahu ia belum makan sejak kemarin, ia sengaja melakukannya. Ia langsung menghapriku dan memelukku dengan erat, kemudian berkata “Maafkan mamas Nisa, mas salah selama ini, mas akan berusaha memperbaikinya mulai dari sekarang. Mas pernah bilang bahwa semua orang memiliki masa lalu dan mas menerima semua itu, semua masa lalu Nisa. Tapi alangkah bodohnya diri mas yang belum bisa menerima masa lalu mas sendiri. Terimakasih Nisa sudah sangat sabar selama setahun ini mendampingi dan bertahan dengan sikap mas yang egois terhadap kamu. Mas sayang kamu. Mari kita mulai awal kebahagiaan kita , awal kehiduan baru kita dan keluarga kecil kita.” Aku tak bisa berbicara banyak, aku hanya mengangguk pelan. Air mataku mulai menetes begitupun dia, tangis haru dua insan mulai berpadu dalam keheningan malam. Ia mulai melepas pelukannya, dan aku bahkan belum sempat menghaus air mataku. “Tapi mas harus janji ya, jangan pernah menyiksa diri mas lagi kayak gini, oke ?”kataku, ia mengangguk dan senyum simul mulai menghiasi wajahnya.

                Malam ini menjadi awal baru bagi hidupku dan hidunya. Keyakinanku akan kesabaran berbuah manis. Aku yakin kesabaran akan membuat jarak yang jauh menjadi dekat, merubah pahit menjadi manis, membuat yang hilang menjadi ada. Aku tak lagi berjalan sendirian melewati gelap terangnya kehidupan. Kehidupan ku tak lagi ganjil karena aku tak lagi sendiri, tetapi genap karena bersamanya hidupku menjadi utuh dan tergenapi.

No comments:

Post a Comment