Thursday, 1 January 2015

Pantai

Debur ombak masih terdengar sayup seiring dengan langkah kakiku.
Nyanyian ombak menjadi peribur laraku.
Dan pantai ini masih setia menemani senja hingga petang menjemputnya.
Pantai adalah kekasihku.
Yang menenangkan dengan keindahannya.
Yang menghapus laraku dengan senandung ombaknya.

Dan mendamaikan hatiku dengan angin lautnya yang menyentuh jemariku hingga wajahku dengan mesra, sejuk mendebarkan.
Aku bisa datang ke pantai-Mu kapanpun ku ingin untuk sejenak menyandarkan jiwa yang lelah , sekedar bersua dengannya atau hanya bersenda gurau dan bermain-mu main dengan riak ombaknya yang menggelitik kakiku.
Dan kapanpun ku ingin , aku dapay menjumpaimu kapanpun.
Kau selalu ada untukku berbagi kisah.
Namun ganasnya ombakmu dapat menghanyutkan raga ini dan menghapus jejak-jejak kakiku.
Serta tajamnya karang yang dapat melukai ku.
Asinnya air lautmu tak dapat menyejukkan dahagaku atau membasuh luka ku.
Tepat pada hari ini ku lepas harapku pada pantai ini, ku biarkan ia terhanyut sampai tiba saat berlabuh.
Kini aku bukan lagi karang yang kokoh.
Aku terlalu rapuh untuk menahan deburan ombakmu.
Aku terhempas jauh.
Aku tak dapat lagi menemani ombak yang menyentuh karang dengan desahan suara ombak dan pecah seketika.
Debur ombak pantai-Mu masih seiring dengan denyut nadi ku.
Namun kini aku merasa tak lagi menjadi bagiannya.
Ku tinggalkan pantai-Mu dengan langkah tertatih dan membawa beribu puing kenangan yang tersisa untukku di pantai ini.
Ku pergi saat senja mulai terbenam dan menyisakan jejak langkahku yang terakhir di pantai-Mu.

No comments:

Post a Comment