“Ardi tunggu jangan cepet-cepet larinya”, aku mengejarnya
tersengal-sengal. “Ayo cepetan sini”, ujarnya sambil terus berlari. Ardi adalah
sahabat kecilku. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Setiap pulang sekolah kami
selalu berlari, karena rumah kami tak jauh dari sekolah.
Aku masih ingat ketika itu kami masih SD , kami sering bermain bersama sepulang
sekolah. Berlari menyusuri sawah dan bermain perang lumpur. Sering kami
dimarahi orang tua karena badan kami yang bau dan kotor sehabis bermain lumpur
di sawah.Pernah juga ketika kami bermain layangan di lapangan yang luas, dan
saat layang-layaganku putus ia yang mengambil layanganku yang tersangkut di
pohon. Dan saat aku kesusahan untuk membuat layang-layang ,ia juga yang
mengajarkanku membuatnya. Benar benar menyenangkan masa masa kecilku dulu
bersamanya.
***
Tak terasa satu tahun sudah kami melewati masa SMP dan aku
dan Ardi semakin akrab. Tak ada masalah yang berarti melanda persahabatan kami.
Sampai tiba saatnya cobaan dalam persahabatan kami itu muncul , saat kami duduk
di kelas 2 SMP. Saat itu adalah saat saat tersulit bagiku, hari – hari kulalui
penuh dengan kehampaan.
Hari itu seperti biasa, saat bel istirahat aku dan Ardi
selalu pergi ke kantin bersama, atau hanya sekedar duduk di samping teras
kelas. Saling berbagi cerita dan sharing hal-hal kecil bersamanya, dan
juga dengan teman-teman yang lain.
Tak lama kemudian, 2 orang anggota osis masuk ke kelas kami.
Dan kami pun ikut masuk ke dalam kelas. “Perhatian, temen-temen semua untuk
hari Jum’at nanti, kita akan mengadakan Jum’at bersih disekolah, jadi
diharapkan setiap anggota kelas membawa alat bersih-bersih seperti sapu lidi,
koret,lap kaca, atau karung sampah, ada yang ingin bertanya atau kurang jelas“
kata seorang gadis cantik bernama Dinda. Aku sama sekali tak memperdulikan apa
yang dikatakannya aku hanya memandangnya penuh rasa kekaguman , tak terasa
bibirku terlukis sebuah senyuman. “Itu yang bawa koret , lap kaca , sapu lidi
dan lainnya itu tiap orang satu apa gimana?” Tanya Tito, ketua kelas kami. “Mm,
itu dibagi aja tiap satu orang bawa salah satu alat bersih-bersih, ntar ketua
kelas yang nentuin siapa yang bawa sapu lidi, lap kaca , koret dan yang lain,”
jawab Kanya . Dinda dan Kanya pun keluar dari kelas kami. Dan aku masih terpaku
di tempat dudukku, tak bergerak, serasa beberapa detik yang lalu, waktu serasa
berhenti,terselip rasa bahagia yang sulit untuk ku pahami. “Hei, bengong aja,
nglamunin apa?,” suara Ardi, membuyarkan lamunanku. Akupun tersadar dari
lamunanku, dan segera kutepis perasaan itu. “Eh, gak ngelamunin apa-apa kok,”
jawabku spontan. “Lah, pasti lagi mikirin sesuatu, pasti kamu gak tahu tadi
osis ngumumin apa,”kata Ardi. “Memang tadi pengumumannya apa?,” tanyaku bingung
kepada Ardi. “Hari Jum’at nanti kita mau bersih-bersih jadi mesti bawa alat
kebersihan tiap orang, lah udah lah makanya jangan ngelamun kalo ada pengumuman
penting di kelas, ah Nino, Nino kamu ini aneh-aneh aja.”
Di hari-hari berikutnya aku selalu berangkat pagi-pagi
sekali. Sesampainya di sekolah aku tak langsung masuk ke dalam kelas, tetapi
aku duduk-duduk di samping teras kelas yang menghadap lapangan sekolah, sambil
menunggu Dinda datang ke sekolah. Letak gerbang sekolah langsung menghadap ke
lapangan , jadi setiap siswa yang akan masuk ke kelas pasti melewati lapangan
sekolah terlebih dahulu. 15 menit berlalu, kini sudah banyak siswa-siswi yang
datang ke sekolah. Ardi dan teman temanku pun ikut duduk di samping teras
kelas. Tak lama kemudian Dinda pun datang, dan ia berjalan menuju kelas dengan
anggunnya. Ah , dengan melihatnya saja aku sudah merasa sangat bahagia.
***
Keesokan harinya, tak seperti biasanya saat bel istirahat Ardi tak mengajakku
ke luar kelas. Dan aku tahu maksudnya, ia pasti ingin membicarakan hal yang
penting,aku juga tak sabar ingin menceritakan padanya tentang perasaan ku pada
Dinda .Aku ingin tahu bagaimana pendapatnya. Jika ia mengetahui kabar bahagia
ku ini. Aku dan Ardi menuju bangku di pojok kelas. Saat itu di kelas hanya kami
berdua, teman-teman yang lain sudah berhamburan ke kantin.
Aku mulai duduk, dan pembicaraan pun dimulai, “Ar, aku ingin menceritakan
sesuatu padamu, aku sungguh tak sabar menceritakan kabar bahagiaku padamu,”aku
memulai pembicaraan. “Aku juga ingin menceritakan sesuatu hal padamu, dan ini
kabar bahagia sesuatu tentang perasaanku saat ini ,”kata Ardi sambil menyandarkan
tubuhnya di pojok dinding kelas, dengan memperlihatkan sesungging senyuman dan
ia berkata lagi”O ya , kamu juga ingin menceritakan sesuatu kan padaku, ayo
silahkan kamu duluan yang cerita .” “Ah aku malu,Ar, kamu aja ya ng
duluan cerita”jawabku tersipu. “Ya udah, kalo itu mau kamu, aku dulan yang
cerita.”Kemudian Ardi terdiam sebentar dan melanjutkan lagi ceritanya. “Kamu
kenal Dinda kan Ar, anak kelas VIII-5 itu, yang dulu pernah sekelas sama kita
pas kelas VII ?” Tanya nya kemudian.
Ah pertanyaan aneh, jelas aku kenal , dan Ardi pasti tahu
aku mengenalnya , mengapa ia tanyakan lagi padaku. Tapi ku terrfikir ada
sedikit perasaan yang aneh menjalar dalam hatiku, segala kemungkinan buruk
mucul dalam benakku. “Hei aku Tanya kok diem aja sih?” Ardi mengetkanku. “Hah
apa, oh iya jelas kenal dong, memang kenapa?” tanyaku. “Enggak aja, menurutmu
dia gimana?” “Hmm, menurutku dia gadis yang baik dan ramah, memang kenapa?”
tanyaku lagi. “Iya menurutku juga begitu.Aku,, hmm aku suka dengannya Nino,
sejak pertama kita masuk SMP. Menurutmu gimana, kalo aku sama dia?” Tanya Ardi.
Hah, aku tak percaya Ardi berkata begitu, aku berdo’a semoga ini hanya mimpi,
kemungkinan buruk yang membayangiku kini benar-benar terjadi. Lama aku
terdiam,dan tak menjawab pertanyaan dari Ardi, lalu suara Ardi membangunkan aku
dari lamunanku lagi. “Hei, kamu ini ngelamun terus,” “Hah iya Ar, tadi
kamu ngomong apa?” “Ah sudah lah , yang penting kamu mau kan bantuin aku buat
surat untuk Dinda?” tanya Ardi. “Iya, aku pasti bantu kamu kok.” . “Terimakasih
ya Nino, kamu memang sahabatku yang paling baik.Nanti sore ya,aku ke rumahmu.
”O ya tadi kamu mau cerita apa sama aku?” . “Nggak, nggak ada kok, udah lupain
aja.” Jawabku sambil berlalu meninggalkan Ardi sendirian.
***
Sorenya Ardi datang ke rumahku, ia mulai menulis surat untuk
Dinda. “Makasih ya Nino kamu udah mau bantuin aku, besok kita ke kelas Dinda
ya, ntar kita taruh suratnya di lacinya,”kata Ardi. Aku hanya mengangguk.
“Surat ini biar kamu aja yang nyimpen ya,”Ardi menyerahkan suratnya padaku dan
ia pun berpamitan untuk pulang.
Ah, kau tak tahu sahabatku. Betapa sulitnya posisiku saat
itu, aku bingung menetapkan suasana hatiku antara kecewa dan bahagia. Aku
menyadari saat itulah aku harus berkorban demi nama persahabatan. Sahabatku,
Ardi dia yang dulu dengan rela mengambilkan layangan ku yang putus, dia yang
dengan senang hati membuatkan layangan hanya untukku , dan dia yang selalu
memberikan kebahagiaan orang lain tanpa peduli seberapa besar orang lain
memberikan balas kebaikan padanya. Kali ini aku bertekat untuk membalas segala
kebaikannya untukku, meski perih hati ini aku mesti mengikhlasannya, demi
sahabatku .
Esoknya kami pun menuju kelas Dinda , saat bel istirahat dan menaruhnya di laci
tempat duduknya. 3 Hari kemudian Andri mendapatkan surat balasan dari Dinda
yang ia temukan di selipan bukunya. Setelah membaca surat itu ia langsung
menuju kelas Dinda , terpancar rona bahagia dari wajahnya.
Akhirnya ku tahu , ternyata Ardi dan Dinda telah lama saling kenal sejak mereka
SD, dan diam-diam Dinda juga menyimpan rasa yang sama kepada Ardi. Setelah hari
saat ia mendapatkan surat balasan dari Dinda, sikap Ardi mulai berubah. Ia
lebih sering mengunjungi kelas Dinda dan jarang sekali bermain bersama ku saat
istirahat sekolah. Bukan hanya aku, teman-teman pun merasakan hal sama , kami
sudah sangat jarang melihat tingkah konyolnya saat kami bermain bersama. Bahkan
ia tak lagi punya waktu untuk bercerita lagi tentang masalahnya padaku.Ia
banyak menghabiskan waktu di sekolah hanya dengan Dinda.“Ar, belakangan ini
kamu udah jarang maen bareng sama aku dan temen-temen, ntar kita pulang bareng
ya Ar,”kataku pada Ardi. “Maaf,Nino aku udah janji sama Dinda buat pulang
bareng.” Selalu itu yang dikatakan Ardi ketika ku mengajaknya pulang bersama.
Hari-hari berikutnya , aku menyusuri jalan pulang sendiri tanpa sahabatku.
Terbayang dalam ingatanku, ketika aku dan Ardi menyusuri jalan pulang dan
saling bercerita sepanjang jalan pulang. Aku merindukan saat-saat itu,
bersama sahabatku yang kini tak lagi dapat ku rasakan. Aku memang cemburu, tapi
aku tak pantas untuk itu karna ku sadar Ardi adalah kekasih Dinda dan itu
haknya untuk menjalani setiap saat bersama Dinda. Tapi, bagaimana dengan aku,
sahabatnya, ku harap dia akan menyadarinya suatu saat.
***
“Hai Din, siang ini kamu ada acara gak?” “Enggak memang
kenapa , Ar?”. “Kita maen yuk ke Time Zone,”ajak Ardi. “Em, tapi ajak
temen-temen aku juga ya, udah lama nih aku sama temen-temen gak maen
bareng-bareng ke Time Zone,”ujar Dinda. “Emm, ya boleh kok kalo itu mau kamu ,
ajak aja temen-temen kamu sekalian.” . “Hm,, makasih ya Ar, hmm jadi tambah
sayang deh ama kamu.” Kata Dinda sambil mencubit pipi Ardi dengan gemasnya.”Ih,
sakit tau, Din. Manja deh ya.”
Sepulang dari Time Zone Ardi mulai membuka HP nya, ia
melihat ada 1 pesan suara yang masuk. Dan ia mulai menekan tombol HP untuk
membuka pesan suara yang ternyata dari Nino.“Hmm, Ar ini aku, Nino. Tadi aku udah coba telfon kamu
tapi nomermu gak aktif. Jadi aku kirim pesan suara ini ke kamu. Ar, selama ini
kita bersahabat baik, tapi sikap kamu mulai berubah sejak kamu jadian sama
Dinda, kita udah jarang maen bareng, seru-seruan bareng, bahkan kamu gak ada
waktu untuk cerita sama aku. Kamu sadar gak sih selama ini Ar, aku merasa sepi
tanpa seorang sahabat disampingku yang selalu menemaniku, seperti saat kita
dulu. Dan hal yang ingin aku katakan padamu saat itu. Sebenarnya aku, hmm aku
suka juga sama Dinda, semoga kamu gak marah. Dan aku tahu kok kalian punya rasa
yang sama, aku gak mau jadi penghalang hubungan kalian Cuma gara-gara aku. Ar,
aku juga merasa bersalah atas perasaan ku ini terhadap Dinda, ku harap kamu mau
memaafkanku. Dan aku telah mencoba mengikhlaskannya. Yang aku minta padamu,
tolong sisakan waktu untuk mengulang saat-saat bersama kita. Dan untuk
Dinda, aku percayakan sepenuhnya padamu,Ar karna untuk hal yang satu itu aku
sudah mengikhlaskannya.” Setelah membuka pesan suara itu Ardi mulai membatin
“Iya, aku sudah menyadarinya sahabatku, dan dalam hal ini bukan hanya dirimu
yang bersalah, melainkan aku yang lebih merasa bersalah , karena aku telah
mengacuhkan persahabatan kita.”
Seminggu berselang, setelah Ardi menerima pesan suara
dariku. Siang ini dia menemuiku. Dan aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu
padaku. “Aku sudah membuka pesan yang kau kirim seminggu yang lalu,”kata Ardi.
“Ma, maaf kan aku Ardi,, soal pesan itu..” “Ah, sudahlah, Nino kamu gak perlu
minta maaf aku juga yang salah kok , aku yang lebih-lebih merasa bersalah ,
kalau saja aku tahu kau juga menyukai Dinda pasti aku gak akan melukai perasaan
sahabatku sendiri, dan persahabatan kita pasti gak akan begini jadinya. Maafkan
aku Nino,”ujar Ardi penuh rasa bersalah. “Gak usah disesali lah, Ar aku sudah
memaafkan kamu kok, dan aku sudah mengikhlakan semuanya, yang aku minta kita
bisa bersama lagi kayak dulu,”jawabku. “Aku juga udah mutusin Dinda
kok,”pernyataan Ardi membuatku kaget tak percaya. “Tapi Kenapa Ar, jika itu
terjadi karena aku, sungguh bukan maksudku..” Ardi langsung memotong
pembicaraanku. “Sungguh itu bukan karena mu Nino, semuanya ku lakukan
demi persahabatan kita,sungguh. Aku sudah menjelaskan semuanya ke Dinda. Dan
dia maklumin kok,kita masih berhubungan baik, walaupun sekarang aku dan Dinda
hanya berteman. Dan soal perasaanmu ke Dinda itu gak salah, semua orang berhak
untuk itu, “jelas Ardi. “Jadi kamu mau maafin aku, Ar.” “Iya , yang penting
sekarang kita udah saling memaafkan.” Jawabnya sambil mengangguk. Ah, kini
semuanya terang bagiku. Dan perasaanku menjadi lebih lega, aku mendapatkan
persahabatanku kembali. “Nino, kok ngelamun aja, ayo kita pulang bareng,”ajak
Ardi, sambil menarik tanganku dan merangkulkan tangannya dipundakku.
Persahabatan kami pun kembali seperti dulu, segala peristiwa
dan cobaan yang melanda persahabatan kami, akan kami jadikan pelajaran yang
sangat berharga. Dan kami berjanji akan selalu mengenang persahabatan dan
saat-saat kami bersama sebagai dua sahabat yang selau ada dalam suka dan duka.
Setelah lulus dari SMP, kami melanjutkan sekolah ke SMA yang
berbeda. Ia akan sekolah ke Kalimantan dan tinggal bersama saudaranya. Saat aku
mengantarnya di dermaga, itulah terakhir kalinya aku melihatnya, hingga kini
aku tak lagi mendengar kabar tentangnya.
Ardi, sahabatku. Dimanapun kini engkau berada kini, aku akan
tetap selalu mengenang persahabatan kita,Bahkan,sekian banyak teman yang
kutemui hingga saat ini, tak ada yang seperti dirimu, tak ada. Ardi, kau adalah
sahabat yang selalu ku rindukan.
"""BUAT
YANG UDAH BACA DITUNGGU KRITIK DAN SARANNYA, MAKLUM KALO ADA YANG SALAH DAN
KURANG, NAMANYA JUGA MASIH BELAJAR/

No comments:
Post a Comment