Tuesday, 6 August 2013

Cerpen : Sahabat Yang Ku Rindukan



oleh Lubna Abidah pada 17 Mei 2012 pukul 0:23 ·
“Ardi tunggu jangan cepet-cepet larinya”, aku mengejarnya tersengal-sengal. “Ayo cepetan sini”, ujarnya sambil terus berlari. Ardi adalah sahabat kecilku. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Setiap pulang sekolah kami selalu berlari, karena rumah kami tak jauh dari sekolah.
                Aku masih ingat ketika itu kami masih SD , kami sering bermain bersama sepulang sekolah. Berlari menyusuri sawah dan bermain perang lumpur. Sering kami dimarahi orang tua karena badan kami yang bau dan kotor sehabis bermain lumpur di sawah.Pernah juga ketika kami bermain layangan di lapangan yang luas, dan saat layang-layaganku putus ia yang mengambil layanganku yang tersangkut di pohon. Dan saat aku kesusahan untuk membuat layang-layang ,ia juga yang mengajarkanku membuatnya.  Benar benar menyenangkan masa masa kecilku dulu bersamanya.
***
Tak terasa satu tahun sudah kami melewati masa SMP dan aku dan Ardi semakin akrab. Tak ada masalah yang berarti melanda persahabatan kami. Sampai tiba saatnya cobaan dalam persahabatan kami itu muncul , saat kami duduk di kelas 2 SMP. Saat itu adalah saat saat tersulit bagiku, hari – hari kulalui penuh dengan kehampaan.
Hari itu seperti biasa, saat bel istirahat aku dan Ardi selalu pergi ke kantin bersama, atau hanya sekedar duduk di samping teras kelas.  Saling berbagi cerita dan sharing hal-hal kecil bersamanya, dan juga dengan teman-teman yang lain.
Tak lama kemudian, 2 orang anggota osis masuk ke kelas kami. Dan kami pun ikut masuk ke dalam kelas. “Perhatian, temen-temen semua untuk hari Jum’at nanti, kita akan mengadakan Jum’at bersih disekolah, jadi diharapkan setiap anggota kelas membawa alat bersih-bersih seperti sapu lidi, koret,lap kaca, atau karung sampah, ada yang ingin bertanya atau kurang jelas“ kata seorang gadis cantik bernama Dinda. Aku sama sekali tak memperdulikan apa yang dikatakannya aku hanya memandangnya penuh rasa kekaguman , tak terasa bibirku terlukis sebuah senyuman. “Itu yang bawa koret , lap kaca , sapu lidi dan lainnya itu tiap orang satu apa gimana?” Tanya Tito, ketua kelas kami. “Mm, itu dibagi aja tiap satu orang bawa salah satu alat bersih-bersih, ntar ketua kelas yang nentuin siapa yang bawa sapu lidi, lap kaca , koret dan yang lain,” jawab Kanya . Dinda dan Kanya pun keluar dari kelas kami. Dan aku masih terpaku di tempat dudukku, tak bergerak, serasa beberapa detik yang lalu, waktu serasa berhenti,terselip rasa bahagia yang sulit untuk ku pahami. “Hei, bengong aja, nglamunin apa?,” suara Ardi, membuyarkan lamunanku. Akupun tersadar dari lamunanku, dan segera kutepis perasaan itu. “Eh, gak ngelamunin apa-apa kok,” jawabku spontan. “Lah, pasti lagi mikirin sesuatu, pasti kamu gak tahu tadi osis ngumumin apa,”kata Ardi. “Memang tadi pengumumannya apa?,” tanyaku bingung kepada Ardi. “Hari Jum’at nanti kita mau bersih-bersih jadi mesti bawa alat kebersihan tiap orang, lah udah lah makanya jangan ngelamun kalo ada pengumuman penting di kelas, ah Nino, Nino kamu ini aneh-aneh aja.”
Di hari-hari berikutnya aku selalu berangkat pagi-pagi sekali. Sesampainya di sekolah aku tak langsung masuk ke dalam kelas, tetapi aku duduk-duduk di samping teras kelas yang menghadap lapangan sekolah, sambil menunggu Dinda datang ke sekolah. Letak gerbang sekolah langsung menghadap ke lapangan , jadi setiap siswa yang akan masuk ke kelas pasti melewati lapangan sekolah terlebih dahulu. 15 menit berlalu, kini sudah banyak siswa-siswi yang datang ke sekolah. Ardi dan teman temanku pun ikut duduk di samping teras kelas. Tak lama kemudian Dinda pun datang, dan ia berjalan menuju kelas dengan anggunnya. Ah , dengan melihatnya saja aku sudah merasa sangat bahagia.
***
                Keesokan harinya, tak seperti biasanya saat bel istirahat Ardi tak mengajakku ke luar kelas. Dan aku tahu maksudnya, ia pasti ingin membicarakan hal yang penting,aku juga tak sabar ingin menceritakan padanya tentang perasaan ku pada Dinda .Aku ingin tahu bagaimana pendapatnya. Jika ia mengetahui kabar bahagia ku ini. Aku dan Ardi menuju bangku di pojok kelas. Saat itu di kelas hanya kami berdua, teman-teman yang lain sudah berhamburan ke kantin.
                Aku mulai duduk, dan pembicaraan pun dimulai, “Ar, aku ingin menceritakan sesuatu padamu, aku sungguh tak sabar menceritakan kabar bahagiaku padamu,”aku memulai pembicaraan. “Aku juga ingin menceritakan sesuatu hal padamu, dan ini kabar bahagia sesuatu tentang perasaanku saat ini ,”kata Ardi sambil menyandarkan tubuhnya di pojok dinding kelas, dengan memperlihatkan sesungging senyuman dan ia berkata lagi”O ya , kamu juga ingin menceritakan sesuatu kan padaku, ayo silahkan kamu duluan yang cerita  .”  “Ah aku malu,Ar, kamu aja ya ng duluan cerita”jawabku tersipu. “Ya udah, kalo itu mau kamu, aku dulan yang cerita.”Kemudian Ardi terdiam sebentar dan melanjutkan lagi ceritanya. “Kamu kenal Dinda kan Ar, anak kelas VIII-5 itu, yang dulu pernah sekelas sama kita pas kelas VII ?” Tanya nya kemudian.
Ah pertanyaan aneh, jelas aku kenal , dan Ardi pasti tahu aku mengenalnya , mengapa ia tanyakan lagi padaku. Tapi ku terrfikir ada sedikit perasaan yang aneh menjalar dalam hatiku, segala kemungkinan buruk mucul dalam benakku. “Hei aku Tanya kok diem aja sih?” Ardi mengetkanku. “Hah apa, oh iya jelas kenal dong, memang kenapa?” tanyaku. “Enggak aja, menurutmu dia gimana?” “Hmm, menurutku dia gadis yang baik dan ramah, memang kenapa?” tanyaku lagi. “Iya menurutku juga begitu.Aku,, hmm aku suka dengannya Nino, sejak pertama kita masuk SMP. Menurutmu gimana, kalo aku sama dia?” Tanya Ardi. Hah, aku tak percaya Ardi berkata begitu, aku berdo’a semoga ini hanya mimpi, kemungkinan buruk yang membayangiku kini benar-benar terjadi. Lama aku terdiam,dan tak menjawab pertanyaan dari Ardi, lalu suara Ardi membangunkan aku dari lamunanku lagi.  “Hei, kamu ini ngelamun terus,” “Hah iya Ar, tadi kamu ngomong apa?” “Ah sudah lah , yang penting kamu mau kan bantuin aku buat surat untuk Dinda?” tanya Ardi. “Iya, aku pasti bantu kamu kok.” . “Terimakasih ya Nino, kamu memang sahabatku yang paling baik.Nanti sore ya,aku ke rumahmu. ”O ya tadi kamu mau cerita apa sama aku?” . “Nggak, nggak ada kok, udah lupain aja.” Jawabku sambil berlalu meninggalkan Ardi sendirian.
***

Sorenya Ardi datang ke rumahku, ia mulai menulis surat untuk Dinda. “Makasih ya Nino kamu udah mau bantuin aku, besok kita ke kelas Dinda ya, ntar kita taruh suratnya di lacinya,”kata Ardi. Aku hanya mengangguk. “Surat ini biar kamu aja yang nyimpen ya,”Ardi menyerahkan suratnya padaku dan ia pun berpamitan untuk pulang.
Ah, kau tak tahu sahabatku. Betapa sulitnya posisiku saat itu, aku bingung menetapkan suasana hatiku antara kecewa dan bahagia. Aku menyadari saat itulah aku harus berkorban demi nama persahabatan. Sahabatku, Ardi dia yang dulu dengan rela mengambilkan layangan ku yang putus, dia yang dengan senang hati membuatkan layangan hanya untukku , dan dia yang selalu memberikan kebahagiaan orang lain tanpa peduli seberapa besar  orang lain memberikan balas kebaikan padanya. Kali ini aku bertekat untuk membalas segala kebaikannya untukku, meski perih hati ini aku mesti mengikhlasannya, demi sahabatku .
                Esoknya kami pun menuju kelas Dinda , saat bel istirahat dan menaruhnya di laci tempat duduknya. 3 Hari kemudian Andri mendapatkan surat balasan dari Dinda yang ia temukan di selipan bukunya. Setelah membaca surat itu ia langsung menuju kelas Dinda , terpancar rona bahagia dari wajahnya.
                Akhirnya ku tahu , ternyata Ardi dan Dinda telah lama saling kenal sejak mereka SD, dan diam-diam Dinda juga menyimpan rasa yang sama kepada Ardi. Setelah hari saat ia mendapatkan surat balasan dari Dinda, sikap Ardi mulai berubah. Ia lebih sering mengunjungi kelas Dinda dan jarang sekali bermain bersama ku saat istirahat sekolah. Bukan hanya aku, teman-teman pun merasakan hal sama , kami sudah sangat jarang melihat tingkah konyolnya saat kami bermain bersama. Bahkan ia tak lagi punya waktu untuk bercerita lagi tentang masalahnya padaku.Ia banyak menghabiskan waktu di sekolah hanya dengan Dinda.“Ar, belakangan ini kamu udah jarang maen bareng sama aku dan temen-temen, ntar kita pulang bareng ya Ar,”kataku pada Ardi. “Maaf,Nino aku udah janji sama Dinda buat pulang bareng.” Selalu itu yang dikatakan Ardi ketika ku mengajaknya pulang bersama. Hari-hari berikutnya , aku menyusuri jalan pulang sendiri tanpa sahabatku. Terbayang dalam ingatanku, ketika aku dan Ardi menyusuri jalan pulang dan saling  bercerita sepanjang jalan pulang. Aku merindukan saat-saat itu, bersama sahabatku yang kini tak lagi dapat ku rasakan. Aku memang cemburu, tapi aku tak pantas untuk itu karna ku sadar Ardi adalah kekasih Dinda dan itu haknya untuk menjalani setiap saat bersama Dinda. Tapi, bagaimana dengan aku, sahabatnya, ku harap dia akan menyadarinya suatu saat.
***
“Hai Din, siang ini kamu ada acara gak?” “Enggak memang kenapa , Ar?”. “Kita maen yuk ke Time Zone,”ajak Ardi. “Em, tapi ajak temen-temen aku juga ya, udah lama nih aku sama temen-temen gak maen bareng-bareng ke Time Zone,”ujar Dinda. “Emm, ya boleh kok kalo itu mau kamu , ajak aja temen-temen kamu sekalian.” . “Hm,, makasih ya Ar, hmm jadi tambah sayang deh ama kamu.” Kata Dinda sambil mencubit pipi Ardi dengan gemasnya.”Ih, sakit tau, Din. Manja deh ya.”
Sepulang dari Time Zone Ardi mulai membuka HP nya, ia melihat ada 1 pesan suara yang masuk. Dan ia mulai menekan tombol HP untuk membuka pesan suara yang ternyata dari Nino.“Hmm, Ar  ini aku, Nino. Tadi aku udah coba telfon kamu tapi nomermu gak aktif. Jadi aku kirim pesan suara ini ke kamu. Ar, selama ini kita bersahabat baik, tapi sikap kamu mulai berubah sejak kamu jadian sama Dinda, kita udah jarang maen bareng, seru-seruan bareng, bahkan kamu gak ada waktu untuk cerita sama aku. Kamu sadar gak sih selama ini Ar, aku merasa sepi tanpa seorang sahabat disampingku yang selalu menemaniku, seperti saat kita dulu. Dan hal yang ingin aku katakan padamu saat itu. Sebenarnya aku, hmm aku suka juga sama Dinda, semoga kamu gak marah. Dan aku tahu kok kalian punya rasa yang sama, aku gak mau jadi penghalang hubungan kalian Cuma gara-gara aku. Ar, aku juga merasa bersalah atas perasaan ku ini terhadap Dinda, ku harap kamu mau memaafkanku. Dan aku telah mencoba mengikhlaskannya. Yang aku minta padamu, tolong sisakan waktu  untuk mengulang saat-saat bersama kita. Dan untuk Dinda, aku percayakan sepenuhnya padamu,Ar karna untuk hal yang satu itu aku sudah mengikhlaskannya.” Setelah membuka pesan suara itu Ardi mulai membatin “Iya, aku sudah menyadarinya sahabatku, dan dalam hal ini bukan hanya dirimu yang bersalah, melainkan aku yang lebih merasa bersalah , karena aku telah mengacuhkan persahabatan kita.”
Seminggu berselang, setelah Ardi menerima pesan suara dariku. Siang ini dia menemuiku. Dan aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu padaku. “Aku sudah membuka pesan yang kau kirim seminggu yang lalu,”kata Ardi. “Ma, maaf kan aku Ardi,, soal pesan itu..” “Ah, sudahlah, Nino kamu gak perlu minta maaf aku juga yang salah kok , aku yang lebih-lebih merasa bersalah , kalau saja aku tahu kau juga menyukai Dinda pasti aku gak akan melukai perasaan sahabatku sendiri, dan persahabatan kita pasti gak akan begini jadinya. Maafkan aku Nino,”ujar Ardi penuh rasa bersalah. “Gak usah disesali lah, Ar aku sudah memaafkan kamu kok, dan aku sudah mengikhlakan semuanya, yang aku minta kita bisa bersama lagi kayak dulu,”jawabku. “Aku juga udah mutusin Dinda kok,”pernyataan Ardi membuatku kaget tak percaya. “Tapi Kenapa Ar, jika itu terjadi karena aku, sungguh bukan maksudku..” Ardi langsung memotong pembicaraanku. “Sungguh itu bukan karena mu Nino,  semuanya ku lakukan demi persahabatan kita,sungguh. Aku sudah menjelaskan semuanya ke Dinda. Dan dia maklumin kok,kita masih berhubungan baik, walaupun sekarang aku dan Dinda hanya berteman. Dan soal perasaanmu ke Dinda itu gak salah, semua orang berhak untuk itu, “jelas Ardi. “Jadi kamu mau maafin aku, Ar.” “Iya , yang penting sekarang kita udah saling memaafkan.” Jawabnya sambil mengangguk. Ah, kini semuanya terang bagiku. Dan perasaanku menjadi lebih lega, aku mendapatkan persahabatanku kembali. “Nino, kok ngelamun aja, ayo kita pulang bareng,”ajak Ardi, sambil menarik tanganku dan merangkulkan tangannya dipundakku.
Persahabatan kami pun kembali seperti dulu, segala peristiwa dan cobaan yang melanda persahabatan kami, akan kami jadikan pelajaran yang sangat berharga. Dan kami berjanji akan selalu mengenang persahabatan dan saat-saat kami bersama sebagai dua sahabat yang selau ada dalam suka dan duka.
Setelah lulus dari SMP, kami melanjutkan sekolah ke SMA yang berbeda. Ia akan sekolah ke Kalimantan dan tinggal bersama saudaranya. Saat aku mengantarnya di dermaga, itulah terakhir kalinya aku melihatnya, hingga kini aku tak lagi mendengar kabar tentangnya.
Ardi, sahabatku. Dimanapun kini engkau berada kini, aku akan tetap selalu mengenang persahabatan kita,Bahkan,sekian banyak teman yang kutemui hingga saat ini, tak ada yang seperti dirimu, tak ada. Ardi, kau adalah sahabat yang selalu ku rindukan.

"""BUAT YANG UDAH BACA DITUNGGU KRITIK DAN SARANNYA, MAKLUM KALO ADA YANG SALAH DAN KURANG, NAMANYA JUGA MASIH BELAJAR/

No comments:

Post a Comment