Monday, 8 May 2023

Lalu Segalanya Beranjak Pergi

Lalu segalanya beranjak pergi.

Dua belas kali di malam keduabelas yang sama. Genangan air yang mendarah pada naungan singgah itu mengucur tanpa henti. Tepatnya kemarin, kemarin sekali lagi pikiran ku teruminasi, mengambil alih segala yang waras dan tandas lebih dekat pada hati.

Aku benci perasaan ini.

Lalu segalanya beranjak pergi.

Tepatnya kemarin, kemarin sekali lagi. Kenangan demi kenangan memuakkan itu terputar lagi dalam ingatan, aku muak diperlihatkan oleh Nya seperti kaset kusut yang dipaksa berpendar ribuan kali. Audionya yang busuk, suaranya yang melengking, potongan gambar yang buruk, orang-orang yang keji, cemoohan sana sini, ucap verbal yang membekas luka.

Mereka peduli apa?

Lalu segalanya beranjak pergi.

Kadang lapang hatiku berdebu, membisik ikut memaki-Mu. "Aku memilih-Mu di antara makhluk yang tercipta di bumi-Mu? Inikah balasanku? Aku memilih-Mu ketimbang cinta yang begitu indah terlihat dan terasa memabukanku. Aku memilih-Mu lalu apa kurangku? Beginikah cara-Mu mencintaiku?' rapalku di antara kalut dan tetes air mata yang ku bendung, rapalku kalut di antara emosi jiwa yang ku tahan hingga bibir terkatup, rapalku kalut ketika jawab-Mu seperti teka-teki bisu yang tak pernah bisa aku pahami. 

Rapalku hening ketika kepahitan yang ku teguk adalah apa yang kata orang-orang adalah balasan dari perbuatan buruk.

Aku tak mampu menimbang perkara dan tidak mampu menghitung yang disebut oleh mereka sebagai rahmat-Mu atau balasan/azab-Mu.

Lalu segalanya beranjak pergi.

Saat aku perpikir ulang.

Apakah mati?

Apakah sekarang?

Atau nanti?

Aku takut apa? takut mati atau takut kehidupan setelah mengharap-Mu?

Aku takut mati kah? Atau takut bekalku yang tak cukup? Yang aku tahu, aku hanya tak ingin berlama-lama di sini.


No comments:

Post a Comment