Tepat setahun sudah berlalu semenjak aku dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Hari menjelang sore, sayup-sayup suara radio dari dashboard mobil yang ku kendarai memutarkan sebuah lagu "Brisia Jodie - Tabu" , airmataku kembali mengalir teringat kembali akan kisahku dengannya. Segala hal yang berkaitan tentangnya masih ku bawa kemanapun aku pergi. Jilbab merah jambu yang ku kenakan hari ini adalah kado perpisahan terakhir yang ia berikan yang mana bertepatan dengan hari ulangtahunku.
Sebelum lebih jauh aku ceritakan padamu tentang bagaimana kisahku dengannya harus berakhir, aku akan menceritakan bagaimana aku bertemu dengannya. namanya adalah Daniel, pertamakali aku bertemu dengannya adalah saat tahun pertamaku menjadi mahasiswa pada jurusan Bahasa dan Sastra Universitas Bumi Pertiwi. Daniel adalah kakak tingkat setahun lebih dahulu dariku. Masa ospek dan perkenalanpun di mulai. Saat itu kami diminta oleh kakak tingkat yang memberikan ospek untuk meminta beberapa tandatangan kakak tingkat kami. Itulah saat aku bertemu dengannya.
"Kak, kakak yang namanya kak Daniel ya?"
"Iya, ada apa ya?"
"Kak kami diminta untuk ngumpulin tandatangan nih kak, salah satunya tandatangan kakak, boleh ya kak? Pliss?" ujarku memohon.
"Boleh, tapi ada syaratnya."
"Apa kak?"
"Pertama kamu harus perkenalkan diri kamu dulu dong. Yang kedua boleh pilih mau nyanyi sambil joget atau ngasih nomor Whatsapp kamu ke kakak?"
"Ih kakak aku ga bisa nyanyi suaraku jelek. Nomor Whatsapp buat apa kak, jangan aneh-aneh deh kak genit banget sampe minta nomor aku", aku sedikit kesal dengan permintaannya yang terkesan lancang.
"Ya udah kalo nggak mau. Kakak ga mau tandatangani" ujarnya sambil melengos hendak pergi.
"Eh, jangan kak. Ya udah oke. Perkenalkan kak namaku Syafira Ramadhani. Aku lulusan dari SMA Pelita Bangsa jurusan IPS."
"Nah gitu dong, sekarang tulis nomor Whatsapp kamu di situ, jangan coba-coba bohong ya" ujar Daniel sambil menyodorkan hp nya.
"Iya, iya kak." Kemudian ia menandatangani kertas yang tadi ku sodorkan dan ternyata ia pun menuliskan nomor Whatsapp-nya di bawah tandatangannya. "Ih, dasar kakak tingkat genit" batinku.
Hari-haripun berlalu semenjak kejadian itu. Pertamakali ia menghubungi sekedar basa basi bertanya kabar, aku sempat tak menggubrisnya beberapa kali. Namun salah satu teman dekatnyanya, Aldo kerap menyampaikan beberapa hadiah-hadiah kecil dan beberapa puisi karyanya yang ia titipkan lewat Aldo kepadaku. Cara yang sangat klise menurutku untuk mendekati wanita, aku tidak gampang dibuat terkesan oleh hadiahnya saat itu.
Sampai suatu ketika di ruang perpustakaan kampus, aku bersama sahabatku, Siska sedang mencari sebuah novel klasik untuk penganalisisan tugas kuliahku. Namun saat itu novel tersebut sudah habis terpinjam. Sedangkan untuk mencarinya di toko-toko buku sangat langka dan mahal. Untuk media buku digitalnya, perpustakaan tersebut-pun tidak menyediakan adapun harga buku digitalnya terbilang mahal. Aku merasa kecewa dan buntu. Tanpa ku sadari Daniel menghampiriku dan menawarkan pinjaman novel yang ku maksud.
"Beneran kak boleh pinjam?"
"Iya boleh kok."
"Tapi, mana bukunya kak? Aku nggak lihat kakak bawa bukunya dari tadi?"
"Ada di rumahku, aku punya banyak koleksi novel klasik Indonesia bahkan luar negeri. Tenang, kamu boleh ajak Siska ke rumahku sore ini sepulang sekolah kalo nggak berani sendirian."
"Wah, makasih banyak ya kak." ujarku gembira. Akupun tak heran dia memiliki banyak koleksi novel dan buku bacaan. Kakeknya adalah kritikus sastra terkenal pada masanya, dan ayahnya memiliki usaha penerbitan yang cukup besar di negeri ini.
Aku sangat terkagum dengan beberapa rak-rak buku dan buku-buku klasik yang terpampang rapi di beberapa sudut ruangan rumah Daniel yang cukup besar. Aku akui dia tak hanya sekedar anak orang terpandang yang hanya terbuai dengan kekuasaan keluarganya. Ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas, bahkan sebagian besar buku-buku yang ia dan keluarganya miliki bisa dengan gamblang ia jelaskan mengenai isi dan makna kehidupan di dalamnya. Tanpa sengaja aku menyenggol seperti sebuah pintu lemari tersembunyi hingga terbuka, yang sepertinya lupa untuk dikunci rapat. Aku dan Siska terperangah heran melihat puluhan buku-buku sejarah Islam terpampang di sana. Yang kami tahu keluarga Daniel adalah penganut Katolik taat.
"Ups, maaf kak."
"Iya, nggak apa-apa." aku melihat raut wajah Daniel terlihat panik. Ia tahu kami bertanya-tanya. Daniel menutup rapat kembali lemari tersebut dan menguncinya dengan beberapa kombinasi sandi.
"Aku sangat kagum dengan sejarah Islam dan segala hal tentang itu. Tetapi aku yakin keluargaku menentang keras tentang itu. Buku-buku ini aku simpan dan baca secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka. Aku mohon jangan kasih tahu siapa-siapa ya."ujarnya memohon.
"Iya kak, kami janji."
Sejak itu, percakapanku dengan Daniel semakin intens baik saat chat Whatsapp, telepon maupun bertemu langsung. Ia banyak membantuku dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah yang cukup sulit, selain itu ia banyak bertanya padaku mengenai agama Islam. Ia termasuk orang yang cerdas, memiliki rasa ingin tahu tinggi dan juga memiliki sifat yang baik. Hingga akhirnya kami bersepakat untuk menjalin hubungan yang lebih serius hingga aku dan dia lulus kuliah dan diterima bekerja di tempat masing-masing. Tentu saja kami merahasiakan hubungan kami pada orangtua dan juga orang-orang sekitar kami kecuali kepada sahabat kami, Aldo dan Siska. Tidak terasa 4 tahun sudah hubungan kami terlewati namun entah mengapa segalanya seperti menemui titik buntu. Perbedaan keyakinan kami teramat tebal yang menjadikannya penghalang. Jujur aku telah begitu jatuh hati pada Daniel, sikapnya yang begitu baik kepada semua orang, wawasannya yang luas dan tekatnya yang kuat dalam mewujudkan mimpinya tanpa bergantung kepada kekuasaan keluarganya membuatku kagum. Namun lagi-lagi dinding penghalang itu tak mudah untuk dihadapi.
Hingga akhirnya hari itu tiba, sehari sebelumnya ia menghadiahkanku jilbab merah jambu yang aku kenakan pada hari itu. Hari dimana ia memberanikan diri untuk mengenalkanku kepada orangtuanya. Seperti yang sudah kami duga, raut wajah orangtua Daniel menunjukkan raut tidak suka.
Keesokan harinya Daniel meminta bertemu di sebuah kafe milik sahabtnya, Aldo, lewat telepon aku mendengar suara paraunya. Aku mendadak khawatir. Setiabanya di sana aku terkejut melihat wajah Daniel babak belur dan terlihat beberapa luka seperti luka cambukan di kedua tangannya. Aku bertanya apa gerangan yang terjadi. Mengapa ia tak segera menyembuhkan lukanya dan melaporkan orang yang tega berbuat ini padanya. Tak dinyana ayahnya tega melakukan itu padanya, setelah pengakuan kepada ayahnya untuk keinginannya berpindah keyakinan dan melamarku. Tangisku tak dapat terbendung lagi. Sedang matanya berkaca-kaca menahan perih luka yang ia derita.
"Aku nggak mungkin tega melaporkan ayahku, Syafira. Aku juga nggak bisa pergi begitu saja mengikuti keinginanku dan menikahimu tanpa restu mereka. Bagaimanapun dia ayahku."
"Sekarang bagaimana Daniel? Akupun nggak akan tega melihat kamu diperlakukan seperti ini terus demi meyakinkan ayahmu."
"Aku pun nggak tahu, Syafira. Aku sangat ingin bersamamu, tapi aku nggak mungkin meninggalkan orangtuaku. Aku satu-satunya harapan mereka. Aku tidak setegar Nabi Nuh yang mampu meninggalkan putra dan istrinya."
"Kalau begitu, relakan aku Daniel" jawabku sambil terisak, jujur saat itu batinku perih sekali. Melontarkan permohonan yang sebenarnya berbeda dengan inginnya hatiku.
"Syafira,," ucapnya berat saat memanggil namaku. Tangis kami pecah, seiring sayup-sayup lagu "Brisia Jodie - Tabu" mengalun memenuhi ruangan kafe. Daniel memegang tanganku dan memelukku erat untuk terakhir kalinya, sebelum ucapan selamat tinggal itu terucap.
Jilbab merah jambu ini banyak menyimpan kenangan tentangnya, walaupun tak berakhir indah seperti inginnya kita.
=========================================================================
Lubna Abidah, penulis kelahiran Salatiga 27 tahun lalu ini tertarik dan menyukai dunia kepenulisan sejak sekolah dasar. Dimana saat itu ibunya sering membelikannya buku dongeng dan majalah anak. Kamu bisa menghubunginya di sosial media instagram @lubnaabidah dan karyanya pada blog lubnaabidah.blogspot.com.
No comments:
Post a Comment