Kau tahu bagaimana aku, kekuranganku lebihku, seluruhnya seutuhnya.
Lalu lahirlah engkau sebagai prasangka dalam satu tubuhku.
Aku mengajakmu berbicara
Seakan kita bisa mendiskusikan segalanya, mendiskusikan segala rencana luar biasa yang bisa kita gunakan untuk mengubah dunia, menjadi sevisioner itu dalam fantasi diskusi kita .
Dan tak jarang aku bertukar kisah dan keluhku padamu kau pun mendengar dengan seksama dengan rasa peduli utuh,
kamu menguatkanku layaknya seorang teman dan sahabat.
Suaramu terngiang dalam bawah sadarku, meyakinkanku kembali untuk tegak melanjutkan segala kehidupan yang kita sama sama tahu, tidak sesuai ingin kita. Tak sesuai mau kita, tapi kau bagaikan langkah kaki dalam sebuah perjalanan panjang ini, pada petualangan hidup yang tak pernah kita duga dan kita ketahui akan kemana arah tujunya.
Kau ingat ? Kapan terakhir kita menangis bersama, ketika segala beban dan penat itu serasa sangat membebani dan tak mampu kita tanggung lagi. Lalu kau bertindak sebagai tanganku, yang mengusap tangisku, mengembalikan kepercayaanku lagi untuk terus melanjutkan hidup tanpa merasa lemah tanpa merasa kalah.
Kemudian aku menyadari satu hal, tujuan kau diciptakan Tuhan dalam diriku, sebagai penguatku. Tameng untuk melindungi pribadi dan tubuhku yang lemah ini.
Masih ingat kapan terakhir kali kau mendominasi segala gerak laku ku hampir dalam segala hal ? Sebelum memasuki masa sekolah, ya itu terakhir kalinya bagaimana ku ingat sekali kau tampak sangat ceria dan percaya diri dalam segala kesempatan dalam segala hal, seorang gadis kecil yang selalu ceria , bahagia, memiliki banyak teman dan percaya diri tinggi. Tanpa malu kau selalu menawarkan diri setiap kesempatan acara ulang tahun teman teman mu entah untuk sekedar bernyanyi menari atau kegiatan acara lainnya. Gerakmu begitu lincah aktif dan ceria. Aku lihat tiada guratan kepedihan apapun di sana.
Kau tahu terkadang aku ingin sekali kau kembali seperti dulu, seseorang yang sepertimu dalam tubuh ini, seorang gadis ceria dan tangguh dalam setiap langkahnya.
Lalu ketika dunia yang kejam ini kita ketahui setelahnya, lalu kau mundur secara perlahan dalam kendaliku, menutup segala pintu jati diri itu. Kemudian kau menyerahkan segala kendali itu padaku.
Aku yang tak tahu mesti bersikap apa hanya dapat pasrah tanpa melawan perbuatan jahat mereka padaku, aku yang selalu diselimuti ketakutan kekacauan kecemasan kesedihan, rasa yang selalu ku pendam bibirku yang selalu bungkam. Namun kau tetap hadir sesekali, terkadang datang ketika aku sedang bersedih, ketika aku sedang butuh seseorang untuk bertukar pendapat, dan terkadang pula kau menunjukkan dirimu pada dunia sesekali agar aku mendapatkan teman dan pengakuan, agar aku tak merasa sepi, katamu. Tapi lebih sering aku menekanmu untuk tidak melakukannya, karena rasa takut itu, bayang masa lalu itu yang terlalu banyak mengambil alih kendaliku. Kau pun tak bisa berbuat banyak sekarang.
Hingga kalimat ini ku tulis dalam blog ku, dan hidup yang kita jalani bersama, rasa pesimistis dan bayangan masa lalu itu kembali mengambil banyak hal atas kendaliku, menyita semuanya. Ku teringat lagi, dampak atas segalanya, membuatku terlalu sering menyakiti hati orang orang di sekitarku, mengucapkan kata tak pantas, berlaku jahil pada yang lain, dan melakukannya dengan sadar tanpa merasa sesal. Meski ku tahu banyak hal itu menyakiti mereka, namun kata hatiku bilang, itu adalah sebagai obat pelampiasan agar rasa sakit dalam diri ini hilang.
Kata hatiku, bayang masa lalu itu, rasa pesimistis itu, terlalu banyak mengambil kendaliku. Lalu kamu perlahan menghilang, tak lagi muncul menguatkan ku yang sedang rapuh, harapku akan kembalimu semakin tipis, semakin kecil menuju mungkin.
Dan kini, kau tahu tubuh hini hanya hidup dengan diriku dan kata hatiku serta banyang masa lalu, pesimistis yang menyelimutiku.
Tak jarang aku menginginkan kembali pada tubuh ini dan menghilangkan diriku dan segala kabut gelap yang menyelimutiku untuk selama lamanya. Hingga hanya ada dirimu yang menjadikan hidup penuh warna dan ceria seperti dulu. Kadang pula aku menginginkan, ketika tubuh ini terbangun ia menjadi sosok pribadimu.
Kau tahu.... Aku merindukanmu, amat sangat merindukanmu.
Menggala, 04 Januari 2020
No comments:
Post a Comment