Aku tak tahu harus merasa bahagia atau bersedih, harus ku sebut musibah ataukah keberuntungan atas apa yang ditakdirkan-Nya padaku.
Pada akhirnya semua yang aku rencanakan dan yang aku coba untuk harapkan tak seamin dengan kehendak-Nya. Terjadi lagi pelajaran-pelajaran akan sebuah keikhlasan yang memakan waktu bagi hati untuk kembali terluka dan pulih, begitu terus hingga Allah meminta kita untuk kembali pulang kepada-Nya.
Barangkali dengan cara inilah Allah menunjukkan cinta-Nya padaku, peduli-Nya padaku dan rasa cemburu-Nya padaku.
Karena kerap kali ketika aku kembali merasakan cinta terhadap seseorang, aku kembali berpaling dan lupa akan cinta-Nya yang begitu besar.
Ketika aku merasa sedih dan ditinggalkan, aku baru mengingat-Nya kembali.
Barangkali dengan cara sesakit ini Ia melatihku agar ketika suatu hari aku kembali mencintai seseorang, aku tidak lupa akan cinta-Nya dan ketika aku kehilangan seseorang, aku tak lantas kehilangan cinta-Nya dan kehilangan diriku sendiri.
Harapan yang dipatahkan-Nya adalah hadiah dan bentuk cinta dari-Nya agar aku tidak lekas jauh, berpaling dan lupa pada-Nya.
Dengan ini Allah memintaku kembali.
Kembali seutuhnya, sepenuhnya, selamanya.
No comments:
Post a Comment