Saat kau tahu segalanya telah berubah dan berakhir jauh sebelum kau sempat menyadarinya.
Kau tak pernah mampu merasakan derunya, bahkan hembus angin di tiap tiupnya.
Kemudian langit mulai menangis semakin deras sederas deru isi hati.
Wajah basah menengadah langit menentang segala deru itu kembali.
Hujan seketika berderu jauh lebih kencang dan deras dari sebelumnya.
Terpaku ia menatap langit dengan tengadah wajahnya, dan kedua tangannya yang kian basah.
Seakan deru hujan mampu mengisi segala kepiluan isi hatinya.
Lalu, hujan kembali reda.
Udara kian hangat.
Mengering pula segala derai dalam hatinya.
Hingga tandas, terkuras.
Hingga kering dan hanya terisi sebuah rongga.
No comments:
Post a Comment